Minggu, 31 Mei 2009

BELAJAR MENJADI PEMIMPIN

Seorang pemimpin harus memiliki visi pribadi yang jelas sehingga dapat dijadikan inspirasi oleh orang yang dipimpinnya. Para pemimpin yang efektif pastilah menjadikan personal vision (visi pribadi) yang dimilikinya menjadi shared vision (visi bersama) dalam organisasi yang dipimpinnya. Contohnya adalah para pemimpin besar dunia seperti Jenderal Sudirman, Mahatma Gandi, dan Nelson Mandella. Di bidang kesehatan reproduksi kita mengenal banyak nama leader diantaranya Margareth Sanger, Maria Stopes, dan Francis Place.

Visi adalah apa-apa yang kita pikirkan, impikan dan harapkan. Visi bersumber dari proses keinginan kuat yang ada dalam diri kita untuk berbuat sesuatu. Jika dikaitkan dengan kesehatan reproduksi, maka visi bisa dimaknai dengan apa yang ingin kita tuju dalam kesehatan reproduksi.

Personal vision merupakan langkah awal dalam skematik visi bersama (shared vision). Visi pribadi ini selanjutnya dikomunikasikan pada tim di organisasi sehingga menjadi Shared Vision/visi bersama. Visi bersama adalah suatu uraian atau gambaran jelas mengenai masa depan yang yang ingin dicapai atau diciptakan oleh semua stakeholder, atau sebuah kesepakatan masa depan dimana setiap anggota organisasi bersedia berkorban untuk mencapainya.

Para pahlawan di bidang kesehatan reproduksi diatas adalah orang-orang yang berada dalam suatu keadaan yang tidak menyenangkan sebagai suatu realita kehidupan, kemudian menjadikan mereka lebih kreatif untuk mengatasi masalah yang ada dan terus konsisten memperjuangkan serta mengembangkan visi pribadi yang telah menjadi visi bersama bagi para pekerja dan pemberi layanan kesehatan. Visi pribadi mereka telah menginspirasi banyak orang, bahkah hingga kini

Visi bersama dibangun dari visi pribadi. Visi pribadi lahir dari pemahaman yang dalam pada setiap pribadi. Dibutuhkan pemahaman terhadap realita yang ada dengan sumber yang mendukung. Pada umumnya orang bertindak dari hal yang paling gampang dilaksanakan, dan dalam tujuan tujuan jangka pendek (hanya memecahkan masalah sesaat). Visi tidak sama dengan tujuan jangka panjang. Seorang leader harus memiliki visi jangka panjang. Apa yang perlu dikerjakan sekarang, untuk mencapai sasaran jangka pendek yang bermakna dalam rangka pencapaian sasaran jangka panjang secara bertahap dan berkesinambungan. Hal itulah yang membedakan para pahlawan tadi, dengan para pekerja kesehatan lainnya.

LEBIH SEPARUH PERJALANAN MENUJU MDGs

Hampir Sembilan tahun MDGs (Millenium Development Goals) telah diadopsi oleh Indonesia sebagai bagian dari 189 negara di sepuluh wilayah. Beberapa sat sebelumnya, kita sempat bernafas sedikit lega karena terjadi perkembangan yang kondusif dalam pembangnunan kita. Namun akhir-akhir ini kemunduran ekonomi global cukup mempengaruhi pencapaian tujuan di 2015. Implikasi dari kemunduran ekonomi akan mengurangi penghasilan kaum miskin; krisis pangan akan meningkatkan jumlah orang kelaparan di dunia dan mendorong jutaan manusia lainnya ke jurang kemiskinan; perubahan iklim akan berdampak negatif kepada rakyat miskin. Sebuah penelitian (UNDP, Juni 2007) yang didukung Kementerian Keuangan RI, menemukan kondisi kekurangan pendanaan yang dibutuhkan untuk pengamanan pangan, pendidikan, kesehatan dan keamanan fisik rakyat bangsa ini sama, dengan 2.5 persen penghasilan kotor nasional. Temuan tersebut, bila tidak ada perubahan berarti jumlahnya (akan) berkisar 60-70 juta Dollar AS sepanjang 2006-2015, atau 100 persen utang luar negeri pemerintah. Keadaan ini tidak boleh dibiarkan mengecilkan upaya kita untuk mencapai MDGs, namun sebaliknya kita harus memikirkan strategi terfokus kepada MDGs.

Sekedar mengingatkan saja bahwa pada tahun 2000 ada 189 negara anggota PBB berkomitmen pada delapan tujuan, yakni : (1) pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, (2) mewujudkan pendidikan dasar untuk semua, (3) mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, (4) menurunkan angka kematian anak, (5) meningkatkan kesehatan ibu, (6) memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya, (7) menjamin kelestarian lingkungan hidup, serta (8)mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

SAATNYA INTROSPEKSI

Ketika saya membaca "Laporan MDGs 2008 : Mari Kita Suarakan MDGs", banyak fakta dan data yang menarik untuk dicermati. Namun yang paling menarik bagi saya adalah hal berikut :

  1. Anggaran Belanja Negara untuk kesehatan hanya 5%. Anggaran kesehatan kabupaten berkisar 4-11% anggaran daerah. Sekitar 80% anggaran tersebut digunakan untuk membayar gaji pekerja medis (Padalah WHO merekomendasikan bahwa proporsi gaji seharusnya hanya 15%).
  2. Sebuah survey menemukan bahwa tingkat kehadiran staf puskesmas mencapai 40%. Seringkali karena mereka sedang berada di tempat praktek pribadi.
  3. Pemerintah telah mendidik banyak bidan, dan menempatkan pada seluruh penjuru Indonesia. Namun pemda setempat tidak menganggap hal tersebut prioritas sehingga begitu kontrak dengan Depkes berakhir maka para bidan tersebut tidak dipekerjakan lagi.
  4. Masalah kurangnya kualitas professional bidan, karena :
    1. Kurang mendapat cukup materi / bekal ilmu
    2. Kekurangan peralatan dalam pelaksanaan praktik
    3. Kurangnya pengalaman karena hanya berada dalam komunitas-komunitas kecil

Hal diatas cukup membuat miris saya, yang selama ini berada di preservice area. Ada perasaan "tak berartinya" terhadap apa yang selama ini telah kami kerjakan. Namun disisi lain, memang harus kita akui bahwa sangat banyak kekurangan yang mendesak untuk segera kami benahi.

  1. Masalah pendidikan bidan yang berefek langsung pada kualitas bidan adalah :
    1. Kurikulum pendidikan bidan D.III yang dipakai saat ini masih kurikulum tahun 2002. Padahal, perkembangan kebutuhan masyarakat jauh lebih pesat dari apa yang diminta kurikulum.
    2. MK asuhan di kebidanan saat ini terdiri atas Asuhan Kebidanan I sampai VI yang merupakan alir dari perjalanan woman's lyfe cycle disampaikan secara terpisah pisah sehingga dalam penanganan kadang menjadi tidak tuntas atau malah overlapping. Karenanya perlu beberapa penyederhanaan.
    3. Kurangnya masukan user terhadap kebutuhan di dunia pendidikan sehingga kadang terjadi unmetneed atau malah unused subjek.
    4. Menjamurnya pendidikan bidan (baik akademi maupun STIKES). Hal ini berimpliasi pada :
  • Banyaknya tenaga praktisi di puskesmas dan rumah sakit yang "nyambi" jadi dosen, namun tidak semuanya belum cukup layak dalam peran fungsi tersebut
  • Kurangnya profesionalitas para dosen di sekolah pendidikan bidan
  • Kelayakan alat, sarana-prasarana (termasuk media pembelajaran, alat praktikum dan skills laboratorium
  • Persaingan tidak sehat antar institusi penyelenggara pendidikan di wilayah dengan tempat praktik terbatas
  • Tuntutan target/capaian kasus menjadi tidak rasional (karena rasio pasien dan mahasiswa tidak seimbang).
  1. Penempatan tidak merata

    Pengangkatan dan penempatan tenaga bidan didasarkan hasil analisis kebutuhan di daerah masing-masing. Analisis dilakukan dengan menggunakan panduan Depkes. Namun,masalah ketenagaan bukan hanya terletak pada kurangnya jumlah, tapi yang lebih menonjol adalah sebaran yang tidak merata.

  2. Kurangnya dukungan terhadap perkembangan profesi bidan.
    1. Di banyak wacana dikatakan bahwa bidan dijadikan ujung tombak layanan kesehatan (bukan hanya kesehatan reproduksi, tapi juga keadaan kegawatdaruratan dan kesehatan umum di masyarakat) terutama di rural area. Namun, perhatian tentang hal kualitas maupun kemandirian sesuai kewenangan tidak ditunjukkan secara serius.
    2. Profesi bidan saat ini nampak sangat diminati karena semakin menjamurnya sekolah kebidanan yang didirikan dan semakin banyak lulusan yang dihasilkan. Namun ini malah merupakan pintu masalah kurangnya kualitas dan profesionalisme bidan. Pemerintah membuka pintu yang luas terhadap para "pemegang modal" untuk dapat mendirikan sekolah, kemudian para sekolah ini menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya agar modal kembali dan keuntungan berlipat-lipat. Hasilnya adalah lulusan yang tidak kompeten dalam melaksanakan tugas profesinya.
  3. Organisasi profesi (Ikatan Bidan Indonesia) terkesan tidak cepat tanggap dalam menangani permasalahan yang meresahkan anggotanya. Sebagai contoh adalah masalah pendidikan berkelanjutan yang matang dan komprehensif. Pendidikan bidan dari waktu ke waktu mengalami perkembangan. Saat ini bahkan sudah ada jenjang pendidikan StrataI dan Strata II. Namun, masih belum jelas apa perbedaan peran, fungsi, wewenang dan tanggungjawab dimasing-masing level pendidikan bidan tersebut. Selain itu, kejumudan dalam pola fikir sejawat bidan kadang membuat profesi tidak bisa berkembang leluasa.Misalnya adalah ketika ada bidan yang memilih untuk menekuni atau mendalami kesehatan di masyarakat (public health) maka hal tersebut divonis sebagai pendidikan tidak in-line atau tidak sejalur dengan profesi bidan sehingga terancam tidak diakui dalam profesi yang telah sedemikian lama membesarkan dan dibesarkan oleh para bidan ini. Padahal kita tahu bahwa selama ini bidan banyak bekerja di komunitas.


 

(Buat para sahabat di BEMJ Kebidanan yang sedang merencanakan seminar nasional, AYO,.. DUKUNG PENCAPAIAN MDGs!! Waktu kita 6 tahun lagi…)

Minggu, 17 Mei 2009

BRUCELLOSIS…

Brucellosis apaan ya?? Tetangga flu burung atau teman flu babi? Daripada bingung, baca ini aja ya...

DEFINISI

Brusellosis (Demam Undulan, Demam Malta, Demam Mediteranian, Demam Gibraltar) merupakan suatu infeksi yang disebabkan bakteri Brucella.Dan dikatagorikan oleh OFFICE INTERNASIONAL DESEPIZOOTIES (OIE) sebagai penyakit zoonosis (ALTON et al.,1988). Kuman Brucella oleh WORLD HEALT ORGANIZATION (WHO).

PENYEBAB

Bakteri Brucella yang bersifat gram negatif, tidak berspora, berbentuk kokusbasilus ( short rods) dengan panjang 0,6 – 1,5 um,tidak berkapsul, tidak beflagella sehingga tidak bergerak (non motil). Dalam media biakan, koloni kuman Bricella berbentuk setetes madu bulat, halus, permukaan cembung dan licin, mengkilap serta tembus cahaya dengan diameter 1 – 2 mm. Pada pengecatan Gram, kuman terlihat berbentuk rantai sendiri – sendiri, berpasangan atau berbentuk rantai pendek.

Bruselosis ditularkan melalui:

  • Kontak langsung dengan kotoran atau sekret lainnya dari hewan yang terinfeksi
  • Minum susu sapi, kambing atau domba yang tidak dipasteurisasi
  • Mengkonsumsi hasil olahan susu (misalnya mentega dan keju) yang mengandung bakteri hidup
  • Jarang ditularkan dari orang ke orang
  • Paling sering ditemukan di daerah pedesaan dan merupakan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan pada pekerja pembungkus daging, dokter hewan, petani dan peternak.

GEJALA :

Masa inkubasi brucellosis pada manusia umumnya berkisar 1 - 2 bulan dan kemudian penyakit dapat bersifat akut atau kronis. Brucellosis yang bersifat akut ditandai dengan gejala klinis berupa demam undulan yang intermiten, sakit kepala, depresi, kelemahan, arthralgia, myalgia, orchitis (epididimitis) pada laki-laki dan abortus spontan pada wanita hamil .Sedangkan, brucellosis kronis dapat menimbulkan sacroilitis, hepatitis, endocarditis, colitis dan meningitis . Kematian akibat brucellosis pada manusia biasanya terjadi karena adanya komplikasi endocarditis yang disebabkan oleh infeksi B. melitensis dengan angka kejadian mencapai 80%. Gejala mulai timbul dalam 5 hari sampai beberapa bulan (biasanya 2 minggu) setelah terinfeksi oleh bakteri. Gejalanya bervariasi, terutama pada stadium awal. Penyakit ini dapat dimulai secara tiba-tiba dengan demam dan menggigil, sakit kepala hebat, nyeri, rasa tidak enak badan dan kadang diare. Pada malam hari terjadi demam sampai 40-41 Celsius; suhu tubuh menurun secara bertahap, kembali normal atau mendekati normal pada setiap pagi hari disertai keringat yang banyak. Demam yang hilang timbul ini berlangsung selama 1-5 hari dan diikuti periode selama 2-14 hari bebas gejala. Kemudian demam kembali timbul. Pola tersebut bisa terjadi hanya sekali, tetapi sebagian penderita mengalami bruselosis menahun dan demam berulang serta penyembuhan selama beberapa bulan atau beberapa tahun.


Setelah fase awal, gejala selanjutnya adalah:

- sembelit yang berat
- hilang nafsu makan
- nyeri sendi
- penurunan berat badan
- nyeri perut
- sakit kepala
- sakit punggung
- lemah
- mudah tersinggung
- sukar tidur
- depresi
- ketidakstabilan emosional.

- Bisa terjadi pembesaran kelenjar getah
Jika tidak timbul komplikasi, biasanya penderita akan kembali puluh dalam waktu 2-3 minggu. Peradangan saraf, buah zakar, kandung kemih, hati dan tulang.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya, didukung dengan riwayat kontak dengan hewan yang terinfeksi atau hasil olahan dari hewan yang terinfeksi. Contoh darah (kadang contoh cairan serebrospinal, air kemih atau jaringan) diambul untuk dibuat biakan di laboratorium. Pemeriksaan contoh darah juga bisa menunjukkan tingginya kadar antibodi terhadap bakteri penyebab infeksi.
Gambaran klinis dan lesi yang ditimbulkan oleh infeksi brucellosis pada manusia sering kali sulit dikenali sehingga peneguhan diagnosis harus didukung dengan uji secara laboratorium (SANTINI et al ., 1994 ; MADKOUR, 1989).

PENGOBATAN

Pengobatan brucellosis harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan relapsis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik seperti doksisiklin, streptomisin dan rifampisin setiaphari selama minimal 6 minggu (WHO, 1986). Pada orang dewasa dan anak di atas umur 8 tahun, antibiotika yang diberikan adalah doksisiklin danrifampisin selama 6 - 8 minggu, sedangkan untuk anak di bawah 8 tahun sebaiknya diberikan rifampisin dan trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) selama 6 minggu. Penderita brucellosis dengan spondilitis direkomendasikan antibiotika doksisiklin dan rifampisin dikombinasikan dengan aminoglikosida (gentamisin) selama 2 - 3 minggu kemudian diikuti dengan rifampisin dan doksisiklin selama 6 minggu. Juga kombinasi TMP-SMX (GHOLAMI, 2000) untuk pengobatan brucellosis pada manusia .Brucellosis dengan komplikasi endocarditis atau meningoenchepalitis memerlukan pengobatan dengan kombinasi antibiotika rifampisin, tetrasiklin dan aminoglikosida (SHAKIR et a! ., 1987) serta penambahan corticosteroid untuk mengurangi proses peradangan .Sedangkan, brucellosis dengan komplikasi endocarditis memerlukan pengobatan yang lebih agresif yaitu dengan kombinasi aminoglikosida dengan doksisiklin, rifampisin dan TMP-SMX selama 4 minggu diikuti sekurang-kuranganya kombinasi 2 - 3 jenis antibiotika selama 8 - 12 minggu. Pada wanita hamil penderita brucellosis, antibiotika pilihan yang harus diberikan. Jika hanya diberikan 1 macam antibiotik sering terjadi kekambuhan karena itu diberikan beberapa antibiotik. Doksisiklin atau tetrasiklin dan suntikan streptomisin setiap hari akan menrunkan resiko terjadinya kekambuhan. Kepada anak yang berusia di bawah 8 tahun diberikan trimetoprim-sulfameoksazol dan streptomisin atau rifampicin, karena tetrasiklin bisa menyebabkan kerusakan gigi. Pada kasus yang berat, diberikan kortikosteroid (misalnya prednison). Jika terjadi nyeri otot yang hebat bisa diberikan pereda nyeri yang kuat.

PENCEGAHAN

· Hindari susu yang belum dipasteurisasi dan keju yang masih muda.

· Para pekerja yang mengolah produk hewan sebaiknya menggunakan kaca mata debu dan sarung tangan serta membalut setiap luka yang ada di kulitnya.

· Membunuh hewan yang terinfeksi dan memberikan vaksin kepada hewan yang sehat bisa membantu mencegah penyebaran infeksi

KESIMPULAN

Brucellosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Rendahnya publikasi brucellosis pada manusia serta tidak adanya laporan kasus brucellosis pada manusia di Indonesia adalah sebagai penyebab kurang dikenalnya brucellosis oleh masyarakat . Tingginya prevalensi brucellosis pada sapi di Indonesia dan terdeteksinya titer antibodi terhadap Brucella pada para pekerja kandang sapi perah, kandang babi dan RPH babi di DKI Jakarta adalah salah satu contoh pemungkin terjadinya penularan brucellosis pada manusia. Pengendalian brucellosis pada hewan dengan program eradikasi yang komperhensif berupa eliminasi hewan positif brucellosis secara serologis dan melalui program vaksinasi dapat menanggulangi kejadian brucellosis pada manusia