Minggu, 17 Mei 2009

BRUCELLOSIS…

Brucellosis apaan ya?? Tetangga flu burung atau teman flu babi? Daripada bingung, baca ini aja ya...

DEFINISI

Brusellosis (Demam Undulan, Demam Malta, Demam Mediteranian, Demam Gibraltar) merupakan suatu infeksi yang disebabkan bakteri Brucella.Dan dikatagorikan oleh OFFICE INTERNASIONAL DESEPIZOOTIES (OIE) sebagai penyakit zoonosis (ALTON et al.,1988). Kuman Brucella oleh WORLD HEALT ORGANIZATION (WHO).

PENYEBAB

Bakteri Brucella yang bersifat gram negatif, tidak berspora, berbentuk kokusbasilus ( short rods) dengan panjang 0,6 – 1,5 um,tidak berkapsul, tidak beflagella sehingga tidak bergerak (non motil). Dalam media biakan, koloni kuman Bricella berbentuk setetes madu bulat, halus, permukaan cembung dan licin, mengkilap serta tembus cahaya dengan diameter 1 – 2 mm. Pada pengecatan Gram, kuman terlihat berbentuk rantai sendiri – sendiri, berpasangan atau berbentuk rantai pendek.

Bruselosis ditularkan melalui:

  • Kontak langsung dengan kotoran atau sekret lainnya dari hewan yang terinfeksi
  • Minum susu sapi, kambing atau domba yang tidak dipasteurisasi
  • Mengkonsumsi hasil olahan susu (misalnya mentega dan keju) yang mengandung bakteri hidup
  • Jarang ditularkan dari orang ke orang
  • Paling sering ditemukan di daerah pedesaan dan merupakan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan pada pekerja pembungkus daging, dokter hewan, petani dan peternak.

GEJALA :

Masa inkubasi brucellosis pada manusia umumnya berkisar 1 - 2 bulan dan kemudian penyakit dapat bersifat akut atau kronis. Brucellosis yang bersifat akut ditandai dengan gejala klinis berupa demam undulan yang intermiten, sakit kepala, depresi, kelemahan, arthralgia, myalgia, orchitis (epididimitis) pada laki-laki dan abortus spontan pada wanita hamil .Sedangkan, brucellosis kronis dapat menimbulkan sacroilitis, hepatitis, endocarditis, colitis dan meningitis . Kematian akibat brucellosis pada manusia biasanya terjadi karena adanya komplikasi endocarditis yang disebabkan oleh infeksi B. melitensis dengan angka kejadian mencapai 80%. Gejala mulai timbul dalam 5 hari sampai beberapa bulan (biasanya 2 minggu) setelah terinfeksi oleh bakteri. Gejalanya bervariasi, terutama pada stadium awal. Penyakit ini dapat dimulai secara tiba-tiba dengan demam dan menggigil, sakit kepala hebat, nyeri, rasa tidak enak badan dan kadang diare. Pada malam hari terjadi demam sampai 40-41 Celsius; suhu tubuh menurun secara bertahap, kembali normal atau mendekati normal pada setiap pagi hari disertai keringat yang banyak. Demam yang hilang timbul ini berlangsung selama 1-5 hari dan diikuti periode selama 2-14 hari bebas gejala. Kemudian demam kembali timbul. Pola tersebut bisa terjadi hanya sekali, tetapi sebagian penderita mengalami bruselosis menahun dan demam berulang serta penyembuhan selama beberapa bulan atau beberapa tahun.


Setelah fase awal, gejala selanjutnya adalah:

- sembelit yang berat
- hilang nafsu makan
- nyeri sendi
- penurunan berat badan
- nyeri perut
- sakit kepala
- sakit punggung
- lemah
- mudah tersinggung
- sukar tidur
- depresi
- ketidakstabilan emosional.

- Bisa terjadi pembesaran kelenjar getah
Jika tidak timbul komplikasi, biasanya penderita akan kembali puluh dalam waktu 2-3 minggu. Peradangan saraf, buah zakar, kandung kemih, hati dan tulang.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya, didukung dengan riwayat kontak dengan hewan yang terinfeksi atau hasil olahan dari hewan yang terinfeksi. Contoh darah (kadang contoh cairan serebrospinal, air kemih atau jaringan) diambul untuk dibuat biakan di laboratorium. Pemeriksaan contoh darah juga bisa menunjukkan tingginya kadar antibodi terhadap bakteri penyebab infeksi.
Gambaran klinis dan lesi yang ditimbulkan oleh infeksi brucellosis pada manusia sering kali sulit dikenali sehingga peneguhan diagnosis harus didukung dengan uji secara laboratorium (SANTINI et al ., 1994 ; MADKOUR, 1989).

PENGOBATAN

Pengobatan brucellosis harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan relapsis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik seperti doksisiklin, streptomisin dan rifampisin setiaphari selama minimal 6 minggu (WHO, 1986). Pada orang dewasa dan anak di atas umur 8 tahun, antibiotika yang diberikan adalah doksisiklin danrifampisin selama 6 - 8 minggu, sedangkan untuk anak di bawah 8 tahun sebaiknya diberikan rifampisin dan trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) selama 6 minggu. Penderita brucellosis dengan spondilitis direkomendasikan antibiotika doksisiklin dan rifampisin dikombinasikan dengan aminoglikosida (gentamisin) selama 2 - 3 minggu kemudian diikuti dengan rifampisin dan doksisiklin selama 6 minggu. Juga kombinasi TMP-SMX (GHOLAMI, 2000) untuk pengobatan brucellosis pada manusia .Brucellosis dengan komplikasi endocarditis atau meningoenchepalitis memerlukan pengobatan dengan kombinasi antibiotika rifampisin, tetrasiklin dan aminoglikosida (SHAKIR et a! ., 1987) serta penambahan corticosteroid untuk mengurangi proses peradangan .Sedangkan, brucellosis dengan komplikasi endocarditis memerlukan pengobatan yang lebih agresif yaitu dengan kombinasi aminoglikosida dengan doksisiklin, rifampisin dan TMP-SMX selama 4 minggu diikuti sekurang-kuranganya kombinasi 2 - 3 jenis antibiotika selama 8 - 12 minggu. Pada wanita hamil penderita brucellosis, antibiotika pilihan yang harus diberikan. Jika hanya diberikan 1 macam antibiotik sering terjadi kekambuhan karena itu diberikan beberapa antibiotik. Doksisiklin atau tetrasiklin dan suntikan streptomisin setiap hari akan menrunkan resiko terjadinya kekambuhan. Kepada anak yang berusia di bawah 8 tahun diberikan trimetoprim-sulfameoksazol dan streptomisin atau rifampicin, karena tetrasiklin bisa menyebabkan kerusakan gigi. Pada kasus yang berat, diberikan kortikosteroid (misalnya prednison). Jika terjadi nyeri otot yang hebat bisa diberikan pereda nyeri yang kuat.

PENCEGAHAN

· Hindari susu yang belum dipasteurisasi dan keju yang masih muda.

· Para pekerja yang mengolah produk hewan sebaiknya menggunakan kaca mata debu dan sarung tangan serta membalut setiap luka yang ada di kulitnya.

· Membunuh hewan yang terinfeksi dan memberikan vaksin kepada hewan yang sehat bisa membantu mencegah penyebaran infeksi

KESIMPULAN

Brucellosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Rendahnya publikasi brucellosis pada manusia serta tidak adanya laporan kasus brucellosis pada manusia di Indonesia adalah sebagai penyebab kurang dikenalnya brucellosis oleh masyarakat . Tingginya prevalensi brucellosis pada sapi di Indonesia dan terdeteksinya titer antibodi terhadap Brucella pada para pekerja kandang sapi perah, kandang babi dan RPH babi di DKI Jakarta adalah salah satu contoh pemungkin terjadinya penularan brucellosis pada manusia. Pengendalian brucellosis pada hewan dengan program eradikasi yang komperhensif berupa eliminasi hewan positif brucellosis secara serologis dan melalui program vaksinasi dapat menanggulangi kejadian brucellosis pada manusia