Senin, 08 Juni 2009

HEALTH REPRODUCTIVE RESEARCH (1)

Penelitian di bidang kesehatan reproduksi telah banyak dilakukan, terutama penelitian pada acceptable area. Namun sebenarnya cukup banyak area private dalam kesehatan reproduksi yang dibawa ke area sosial public atau harus menjadi wacana public. Misalnya dalam hal pemahaman pelecehan seksual yang dimaknai menghina (misalnya memegang pantat dengan sengaja, siulan, atau omongan jorok), sedangkan kekerasan seksual bermakna lebih besar (misalnya perkosaan).

Dalam melaksanakan riset-riset dibidang kesehatan reproduksi dibutuhkan hal berikut :

1. BRAIN

Komponen ini dikembangkan baik secara formal (di kampus / sekolah untuk meningkatkan pemahaman / knowledge dan skill yang appropriate) atau secara non formal

2. SKILL & ABILITY

Skill dan ability disini adalah keahlian peneliti dalam melihat dan membaca simbol di masyarakat (Ingat bahwa Manusia adalah HOMO SYMBOLYCUM). Simbol dapat dimaknai dengan benar apabilka kita peka dengan simbol lain yang ada. Misalnya, ketika kita menemui perempuan yang menggunakan anting hanya sebelah kanan, maka apakah kita bisa langsung memberikan judgemental awal (yaitu bahwa perempuan tersebut lesbian? ). Tentu saja tidak bisa demikian, tetapi harus juga melihat symbol lain yang ada (baik yang dimunculkan maupun tidak).

3. BRAVERY

Keberanian seorang peneliti di bidang kesehatan reproduksi antara lain :

  • Berani menghadapi subjek penelitian

    Misalnya ingin meneliti tentang HIV/AIDS maka harus berani berada dalam komunitas tersebut secara intens sesuai kebutuhan riset

  • Berani menghadapi risiko

    Berada dalam komunitas HIV akan mengakibatkan peneliti mendapatkan stigma seperti halnya pada ODHA. Saat ini stigma pada ODHA masih buruk, sehingga stigma itu juga mungkin akan melekat pada peneliti tersebut.

  • Berani menegakkan kode etik

    Mampu menjaga rahasia subjek / responden, mampu memisahkan perasaan pribadi dengan penelitian (contoh paling extreme bila melakukan seorang peneliti laki-laki melakukan riset pada daerah lokalisasi / pelacuran maka harus mampu menjaga prilaku agar tidak malah menjadi "konsumen" atau malah menjadi "pimp")

  • Berani menceritakan penelitiannya pada orang yang terkait dengan pribadinya (misalnya pada pasangan hidup atau org yang dicintai). Tujuannya adalah meminimalkan dampak dan risiko akibat penelitiannya pada real life si peneliti. Nammun tentu harus menjunjung kode etik dan hak kerahasiaan subjek penelitian.