Kamis, 31 Desember 2009

HAMBATAN PELAKSANAAN KIE HIV/AIDS DALAM PELAYANAN ANC OLEH BIDAN DI PUSKESMAS KOTA YOGYAKARTA



HAMBATAN PELAKSANAAN KIE HIV/AIDS DALAM PELAYANAN ANC OLEH BIDAN DI PUSKESMAS KOTA YOGYAKARTA


INTISARI
Latar Belakang: Indonesia sudah masuk ke tingkat epidemi terkonsentrasi sejak tahun 2000 yaitu pada kelompok yang beresiko tinggi, prevalensi HIV/AIDS melebihi 5%. Kota Yogyakarta adalah salah satu daerah yang masuk ke dalam program akselerasi dari 105 kabupaten/kota di Indonesia dan telah menyediakan layanan tes HIV di tingkat puskesmas. KPA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)  2009 melaporkan  sejak tahun 2003-2008 di DIY ada 23 anak dengan poisitif HIV, tahun 2005-2008 tercatat ibu hamil dan melahirkan positif HIV 10 orang. PMTCT diintegrasikan dengan paket pelayanan KIA dan KB sehingga bidan di tiap puskesmas mendapatkan sosialisasi tentang PMTCT, sebagai wujud mencegah penularan, diharapkan ikut memberikan andil dengan pemberian KIE terhadap perempuan yang datang ke tempat pelayanan kesehatan, namun hal ini belum bisa terlaksana.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui faktor-faktor penghambat KIE tentang HIV/AIDS pada pelayanan ANC oleh bidan dalam mendukung program PMTCT di puskesmas kota Yogyakarta.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan field research. Lokasi penelitian diambil di 13 puskesmas yang ada di kota Yogyakarta, responen utama adalah  bidan di pelayanan KIA rawat jalan, tiap puskesmas diambil satu bidan yang telah mendapatkan sosialisasi maupun pelatihan tentang program PMTCT dengan in-depth interview. Responden tambahan yaitu penentu kebijakan dan klien. Analisis data menggunakan content analysis sedangkan pemeriksaan keabsahan data dengan metode triangulasi metode dan sumber.
Hasil: Hasil in-depth interview didapatkan delapan kategori tema sebagai faktor penghambat.
Kesimpulan: Delapan faktor  penghambat KIE tentang HIV/AIDS yaitu sumber daya manusia, pengetahuan responden, sarana dan prasarana, waktu pelayanan, masalah kultural, kebijakan dan prosedur dari puskesmas, kekhawatiran berkurangnya kunjungan pasien dan latar belakang pendidikan pasien.

Kata Kunci: PMTCT, Puskesmas, KIE, ANC, HIV/AIDS.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
1Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta.
 2RSUD Imanuddin Pangkalanbun

Jumat, 18 Desember 2009

MENGENANG 40 TAHUN SOE HOK GIE (17 DESEMBER 1942–16 DESEMBER 1969)



Resensi Buku Soe Hok Gie oleh Arief Budiman (Soe Hok Djin)


Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini.Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diriadik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya.Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.


Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidsak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian".


Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai "Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja". Ibu saya sering gelisah dan berkata: " Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang". Terhadap ibu dia Cuma tersenyum dan berkata "Ah, mama tidak mengerti".


Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju (mereka selalu dihalangi untuk bertemu). Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: "Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya". Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: "Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan". Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.


Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supayamereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa.Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.


Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman lantang.Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali,digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat,matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: "Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu". Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.


Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab "Tidak. Mengapa?" Dia cerita,tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut."Soe Hok Gie yang suka menulis di koran? Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab " Dia orang berani. Sayang dia meninggal".

Jenazah dibawa pulang oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: "Saya kenalnamanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal.Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus". Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan sayamencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?


Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun akalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang? Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata "Ya" atau "Tidak", meskipun cuma di dalam hatinya. Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik "Gie, kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakahHok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu.Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.


(Seperti Dimuat dalam Buku Catatan Seorang Demonstran Edisi 1993)

Sabtu, 12 Desember 2009

MEMBUAT DAFTAR PUSTAKA DENGAN PROGRAM ENDNOTE

Memulai Aplikasi dan Membuat Reference :

  1. Install program EndNote ( click here to download trial version)
  2. Mulai dengan klik --> Create A New Library
  3. Pada New Reference Library di File Name --> diketik nama sesuai keinginan --> SAVE
  4. Klik kanan pada kolom kosong --> muncul pilihan-pilihan --> pilih New Reference
  5. Pilih Reference Type --> Misalnya Book, Book Section, Journal, Thesis, etc
  6. Style --> dipilih sesuai ketentuan institusi. Di Program Magister IKM FK. UGM dipakai APA 5th atau Harvard (utk thesis) atau Vancouver utk naskah publikasi
  7. Isi sesuai kolom.
  8. Pada FILE ATTACHMENT

    Klik Kanan --> pilih File Attachment --> Klik Attach File

  • Akan muncul Select A File To Link To The Reference
  • Isi File Name --> Open
  • Jika ingin merubah attachment --> Sorot File yang ada, klik kanan --> Clear
  1. Jika sudah diisi --> Close --> Kita sudah memiliki Reference
  2. Jika akan menambah reference --> Klik kanan, pilih New Reference --> Lakukan langkah seperti awal .

Aplikasi Program pada Pekerjaan Kita :

Dokumen Baru :

  1. Blok Autor yang dipilih
  2. Buka word, ketik kalimat mengacu pada jurnal / riset yang sesuai
  3. Klik EndNote X2
  4. Klik Insert Citation
  5. Klik Insert Selected Cition

Jika sudah memiliki dokumen , maka dari kalimat yang dikutip atau diacu :

  1. Buka dokumen
  2. Ketik kalimat mengacu pada jurnal / riset yang sesuai
  3. Klik EndNote X2
  4. Klik Insert Citation
  5. Klik Insert Find Cition
  6. Ketik pada blank colom --> potongan nama author, keyword, atau potongan judul
  7. Klik Search --> akan muncul reference yang dimaksud
  8. Klik Insert