Jumat, 31 Desember 2010

Masase Perineum

Masase perineum adalah pengobatan, pemijatan, pengurutan dan penepukan yang dilakukan secara sistematik pada perineum. Tujuannya adalah mempersiapkan jaringan perineum dengan baik untuk proses peregangan selama proses persalinan akan mengurangi robekan perineum dan mempercepat proses penyembuhannya. Masase perineum membutuhkan waktu lebih kurang 10 menit setiap harinya, dimulai pada usia kehamilan 34 minggu sehari sekali, sampai janin lahir.

Teknik masase perineum

Untuk melakukan teknik masasee perineum, yang harus dilakukan pertama kali adalah mencuci bersih tangan dan memendekkan kuku. Pasien duduk ditempat yang nyaman dengan meregangkan kaki dalam posisi semisetting birthing atau dengan posisi sebelah kaki diangkat. Selanjutnya identifikasikan daerah perineum dengan mempergunakan cermin. Oleskan lubricant atau massage-oil atau olium cossar pada jari tangan dan pada daerah perineum. Masukkan jari tangan kedalam vagina (lebih kurang 3 - 4 cm) dan kesamping secara terus menerus sampai merasakan rasa slight burn atau rasa panas. Kemudian setiap sisi dinding vagina secara pelan, pijat bagian bawah dari kanalis vaginalis kearah depan dan belakang. Selama melakukan pemijatan, tekuk ibu jari kearah dinding sampai kanalis vaginalis, dan secara perlahan lakukan pemijatan kearah luar seperti proses yang nantinya akan terjadi ketika kepala bayi akan melewati dinding vagina saat persalinan. Terakhir pasien harus melakukan pemijatan pada seluruh jaringan perineum ini selama 1 menit. Pemijatan tidak boleh terlalu keras karena akan mengakibatkan iritasi atau infeksi. Setelah pemijatan selesai, lakukan kompres hangat pada jaringan perineum selama lebih kurang 10 menit dengan hati-hati, berguna untuk meningkatkan sirkulasi sehingga meningkatkan relaksasi otot dan terbukti melindungi perineum, kemudian pasien diminta untuk mencuci tangan.

Ruptura Perineum

Ruptura perineum adalah robeknya perineum pada saat janin lahir. Berbeda dengan episiotomi, robekan ini sifatnya traumatik karena perineum tidak kuat menahan regangan pada saat janin lewat

Sebab robeknya perineum bisa disebabkan dari pihak ibu dan Janin.

Ruptura perineum sebab dari ibu

1). Karena partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong, his terlampau kuat atau disebut hypertonic uterine contraction, menyebabkan persalinan selesai dalam waktu sangat singkat. Partus sudah selesai kurang dari 3 jam, sifat his normal, tonus otot diluar his juga bisa. Kelainannya terdapat pada kekuatan his, tahanan yang rendah pada bagian lunak jalan lahir atau pada keadaan yang sangat jarang dijumpai oleh adanya proses persalinan yang sangat kuat .

2) Pasien tidak mampu berhenti meneran

Dengan tercapainya dilatasi serviks yang maksimal, sebagian besar wanita dalam proses persalinan tidak bisa menahan keinginan untuk meneran setiap kali timbul kontraksi uterus, menutup glotis dan mengontraksikan otot abdomen berkali-kali dengan sepenuh tenaga untuk menimbulkan peningkatan intra abdomen yang besar selama berlangsungnya kontraksi uterus. Gabungan tenaga yang ditimbulkan akan mendorong janin turun ke dalam vagina dan pada kasus persalinan spontan melewati introitus vagina.

3) Dorongan fundus terlalu kuat sehingga janin keluar terlalu cepat

Biasanya terjadi akibat penolong persalinan yang tidak sabar. Ingin kelahiran janin secara cepat sehingga melakukan dorongan pada fundus uteri dengan mendorong abdomen. Tindakan ini akan menyebabkan ibu merasa nyeri, terlebih lagi berbahaya bagi janin dan kaitanya dengan ruptur uteri .

4) Kelainan vulva

Atresia vulva parsial sebagai akibat dari perlekatan atau jaringan parut setelah pasien mengalami cidera atau pembedahan. Tahanan yang ditimbulkan biasanya dapat diatasi oleh tekanan terus menerus dari kepala janin dengan akibat yang umumnya berupa ruptura perineum yang dalam. Introitus vulvovaginalis kaku dan tidak elastis maka distosia dan laserasi yang luas kemungkinan akan terjadi.

5) Arkus pubis yang terlalu sempit

Sempitnya arkus pubis menyebabkan oksiput tidak bisa rnuncul langsung dibawah simpisis pubis tetapi akan terdorong lebih jauh kebawah pada ramus iskiopubikum. Kesempitan pintu bawah panggul apabila distosia tuberum 8 cm atau lebih kecil, kesempitan pintu bawah panggul ditemukan pada 0,9% dari 1429 primigravida aterm.

6) Episiotomi

Carroli dan Belizan (2000) mengevaluasi episiotomi rutin di bandingkan episiotomi restriktif. Pada kelompok episiotomi restriktif terdapat angka trauma perineum kebutuhan untuk diperbaiki dan kompikasi penyembuhan yang rendah (28%). Sebaiknya pada episiotomi rutin terdapat angka trauma perineum yang tinggi (73%). Dengan temuan ini episiotomi tidak melindungi perineum tetapi menyebabkan inkontinensia sfingter anus dengan cara meningkatkan resiko robekan derajat tiga dan empat. Terbukti bahwa kebijakan untuk episiotomi rutin tidak dapat didukung.

Ruptura perineum sebab dari janin

1) Janin besar

Menurut WHO janin besar adalah janin dengan berat lahir lebih dari 4000 gram. Hasil penelitian Wullur, et all. (2004) di RSUP Manado kasus makrosomia sebesar 1,88%, menyebabkan robekan perineum tingkat satu dan dua sebesar 31,13%.

2) Posisi kepala abnormal

Posisi oksipitalis posterior persisten dalam keadaan fieksi, bagian kepala yang pertama mencapai dasar panggul adalah oksiput (oksipito posterior). Oksiput akan memutar ke depan karena dasar panggul dengan muskulus levator ani membentuk ruang yang lebih luas sehingga memberikan tempat yang lebih sesuai bagi oksiput. Dengan demikian keberadaan ubun-ubun kecil dibelakang masih dianggap sebagai variasi persalinan biasa. Pada kurang dari 10% keadaan kadang-kadang ubun-ubun tidak berputar kedepan, sehingga tetap dibelakang keadaan ini dinamakan posisi oksipito anterior persisten. Hal ini disebabkan karena usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dari ukuran panggul, misalnya diameter antero posterior panggul lebih panjang dari diameter transverse seperti pada panggul android atau otot-otot dasar panggul yang sudah melemah pada multipara atau kepala janin yang kecil.

3) Presentasi bokong

Kepala harus melewati panggul dalam waktu yang lebih singkat daripada persalinan presentasi kepala sehingga tidak ada waktu bagi kepala untuk menyesuaikan dengan besar dan bentuk panggul. Insiden presentasi bokong sebesar 3 - 5% pada bayi dengan berat badan lebih dari 2500 gram. 65% frank breech, 27% footling breeches, 8% complete breech.

4) Ekstraksi vakum/forceps yang sukar

Persalinan pervaginam dengan menggunakan alat ada hubungannya dengan laserasi perineal dengan OR = 3,04 CI = 2,42 - 3,84.

5) Distosia bahu

Kepala telah lahir tapi bahu tidak dapat dilahirkan dengan cara-cara biasa. Insidensi umumnya kurang dari 0,15 – 0,2%. Pada bayi dengan berat lahir lebih dari 4000 gram insidensinya 1,6% (Oxorn, 2003).

6) Anomali konginetal seperti hidrosephalus.

Hidrosepalus adalah penimbunan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak, sehingga kepala menjadi besar serta menjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel biasanya antara 500-1500 ml. Kadang-kadang mencapai 5 liter karena kepala janin terlalu besar dan menyebabkan disproporsi sepalo pelvic. Terjadi sekitar 12% dari semua malformasi berat yang ditemukan pada kelahiran.

Klasifikasi ruptura perineum (Oxorn, 2003).

  • Ruptur perineum derajat I meliputi mukosa vagina, fourchette dan kulit perineum tepat dibawahnya.
  • Ruptur perineum derajat II merupakan luka robekan yang lebih dalam. Luka ini terutama mengenai garis tengah dan melebar sampai korpus perineum. Muskulus perineum transverses sering turut robek dan robekan dapat turun tapi tidak mencapai spingter ani. Biasanya robekan meluas keatas disepaniang mukosa vagina dan jaringan submukosa. Keadaan ini menimbulkan luka laserasi yang berbentuk segitiga ganda dengan dasar pada fourchette, salah satu apek pada vagina dan apek lainnya didekat rektum.
  • Ruptur perineum derajat III meluas sampai korpus perineum, muskulus transversus perineum dan spingter ani rusak.
  • Ruptur perineum derajat IV spingter ani terpotong dan laserasi meluas hingga dinding anterior rektum.
Ruptur perineum derajat I dan II disebut ruptur perineum inkomplit, sedang ruptur perineum derajat III dan IV disebut ruptur perineum komplit atau totalis.

Tehnik mencegah laserai perineum

Up Right Dan Squatting (posisi jongkok)

Posisi ini sudah dikenal sebagai posisi bersalin yang alami. Beberapa suku di Papua dan daerah lain memiliki kebiasaan menggunakan posisi ini pada saat melahirkan. Dalam dunia obstetri modern, posisi jongkok jarang digunakan. Namun perkembangan terakhir menunjukkan adanya perubahan paradigma. Posisi jongkok kini menjadi salah satu pilihan utama pada saat melahirkan. Posisi jongkok dapat mengurangi rasa sakit ketika bersalin dan memudahkan proses bersalin. Proses ini juga mempersingkat waktu persalian kala II dan menurunkan abnormalitas.

Perdebatan tentang apakah posisi tegak (jongkok, berlutut, duduk, atau berdiri) atau posisi konvensional (dorsal recumbent, berbaring, lateral) lebih menguntungkan bagi outcome persalinan telah berlangsung dalam waktu lama

Evaluasi outcome persalinan pada beberapa penelitian yang membandingkan posisi tegak dengan posisi konvensional menunjukkan bahwa posisi tegak memiliki pengaruh yang positif pada beberapa indikator outcome persalinan, antara lain penurunan tingkat rupture perineum (Keine dan Tebbe, 1996; de Jong dkk., 1997; Bodner dkk., 2003), penurunan kejadian episiotomi (Keine dan Tebbe, 1996; de Jong dkk., 1997; Gupta dan Nikodem, 2000), penurunan rasa nyeri (Waldentrom dan Gottavall, 1991; de Jong dkk., 1997; Gupta dan Nikodem, 2000)

Kerugian posisi jongkok : (1) Posisi ibu memungkinkan untuk bergerak lebih leluasa sehingga sulit untuk memantau detak jantung janin dan ibu (2) Sulit bagi penolong untuk melihat apa yang terjadi di area vulva. Oleh karena itu, bidan harus belajar menyesuaikan berbagai posisi baru pada persalinan kala II.

Perasat Ritgen

Perasat Ritgen atau perasat Ritgen yang telah dimodifikasi adalah teknik yang digunakan klinisi untuk kelahiran kepala bayi. Langkah-langkah Perasat Ritgen adalah sebagai berikut :

  • ·Satu tangan tetap di oksiput untuk mengendalikan kepala bayi.
  • Tangan yang lain ditutup dengan handuk untuk melindungi dari kontaminasi.
  • Tangan yang dibungkus handuk kemudian memberi tekanan ke dalam pada bagian posterior rektum wanita sampai dagu bayi dapat ditemukan dan berada dalam genggaman jari-jari.
  • Tekanan kedepan dan keluar diberikan dibawah sisi dagu dan kepala dikendalikan diantara tangan ini dan tangan yang memberi tekanan pada oksiput.

Ketidaknyamanan timbul karena kenyataannya anus menjadi sangat distensi berupa penonjolan dinding rektum kedalam anus. Perasat Ritgen meningkatkan peregangan anus ini dan cenderung membuat anus dan dinding rektum menjadi sasaran tekanan langsung dan permukaan kasar handuk, hal ini juga dikaitkan dengan peningkatan insidensi laserasi periuretra.

Water Birth

Suku di kepulauan Pasifik, Selandia Baru Turki dan Afrika Selatan telah lama menggunakan metode bersalin di dalam air. Menurut Garland dan Jones bersalin di air mempunyai keuntungan kaitannya dengan efek “Hidrotermik” air sebagai konduktor panas, melemaskan otot dan meredakan nyeri, sehingga kulit perineum akan lebih lembut dan mudah meregang saat kepala bayi melaluinya.

Secara keseluruhan ibu yang melahirkan di air lebih mungkin mengalami perineum utuh atau robekan lebih ringan di bandingkan dengan robekan di darat.

Waterbirth menimbulkan banyak masalah yang berkaitan dengan otonomi wanita dengan bidan, seperti yang amati oleh Beech (1995), wanita di dalam kolam lebih dapat mengontrol persalinannya dan jauh lebih sulit bagi penolong persalinan untuk mengintervensi.


Figure Resources:

http://www.aafp.org/online/en/home/publications/journals/afp.html

http://emedicine.medscape.com/

http://www.waterbirth.org

SUPERCROWNING

Pengendalian diri ibu merupakan kunci semua metode kelahiran dengan perineum utuh. Kelahiran kepala yang mendadak dapat menimbulkan robekan hebat ke spingter ani. Tenik mencegah kelahiran yang mendadak adalah dengan membantu melakukan kendali volunter usaha mengejan dengan cara memimpin nafas pendek dan cepat.

Beynon (1957) saat kala II meminta wanita primipara untuk tidak mengejan. Kepala bayi dapat turun perlahan - lahan dan mantap tanpa pengerahan tenaga, bayi lahir tanpa menyebabkan trauma perineum. Distensi lambat dapat mengurangi traumatik, efek memanfaatkan tenaga dari kontraksi uterus untuk mendorong janin turun melalui segmen bawah uterus dan vagina akan memastikan bahwa tarikan pada ligamen serviks tranversum berlangsung sampai penurunan selanjutnya terjadi. Bagian awal dari setiap kontraksi akan menarik vagina yang telah meregang, mencegahnya terdorong kebawah kedepan bagian terendah janin dan tidak dianjurkan untuk mengejan sebelum bagian awal kontraksi berakhir, desakan mengejan biasanya tidak bersamaan dengan awal kontraksi.

Supercrowning pertama kali di perkenalkan oleh Goldberg (2004). Pada saat crowning ibu berhenti mengejan untuk membiarkan vagina dan perineum meregang perlahan – lahan di sekitar kepala bayi yang mulai muncul guna menguragi robekan/pelahiran yang terlalu cepat. Saat terjadi peregangan, sensasi panas merupakan sinyal yang jelas untuk menghentikan mengejan. Tehnik ini tidak di rekomendasikan untuk beberapa keadaan obstetrik yang memerlukan cepat misalnya gawat janin atau ibu.

Saat crowning, diameter suboccipitobregmatic dan biparietal kepala bayi meregangkan cincin vulva tidak masuk vagina lagi di antara kontraksi, kain atau handuk bersih diletakkan diatas perut ibu dan kain bersih dan kering tadi dilipat sepertiganya di bawah bokong ibu. Perineum dilindungi dengan satu tangan (di bawah kain bersih dan kering) ibu jari dan empat jari lainnya diletakkan pada kedua sisi perineum, jari-jari tangan yang lain pada kepala bayi yang keluar dengan tekanan yang lembut untuk mencegah crowning expulsive. Pada saat ini perineum meregang. Keadaan ini dipertahankan sambil menunggu satu atau dua kontraksi, dengan cara ini ibu dipimpin untuk tidak meneran, berhenti untuk beristirahat atau bernafas cepat dengan cara meniup (fuh..., fuh..., fuh...). Proses ini memberi waktu pada jaringan vagina dan perineum untuk penyesuaian dan akan mengurangi kemungkinan terjadi robekan.

Kepatuhan ibu dalam proses supercrowning sangat di butuhkan untuk mempertahankan crowning. Dalam hal ini penolong persalinan sedapat mungkin meningkatkan kepercayaan diri ibu dengan penuh kesabaran dan tidak ada kesan terburu-buru, dapat menerima ibu yang sedang kesakitan (empati), memuji ibu apa yang di kerjakan dengan benar, memberi bantuan praktis, memberi informasi yang relevan, bicara dengan lembut serta memberikan saran dari pada memerintah. Dengan supercrowning kepala bayi di lahirkan seperti proses persalinan fisiologis.

Rabu, 29 Desember 2010

IBU (a song,... by Haddad Alwi ft Farhan)


Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beri ku penerangan
Selembut citra kasihmu kan
Selalu ku rasa dalam suka dan duka

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Bagaikan embun kesejukan hati ini
Dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Sinari hidupku dengan kehangatanmu


download lagu, disini

Minggu, 12 Desember 2010

MALARIA DALAM KEHAMILAN (Bag II : Penanganan dalam Kehamilan)

Infeksi malaria P. falciparum pada ibu hamil dalam trimester pertama kehamilan harus dirawat dengan quinine (Kina). Setelah trimester II kehamilan maka ACT (amodiaquine dan artesunat) akan digunakan untuk perawatan malaria.

Kombinasi artesunat-amodiaquin, mekanisme kerjanya dapat meningkatkan efikasi, memperlambat resistensi, dapat membunuh parasit dengan konsentrasi yang tinggi dan menurunkan penyebaran malaria. Terapi Terkini Malaria Falciparum menggunakan terapi "artemisinin combination therapy (ACT)". Pedoman pengobatan malaria falciparum pada ibu hamil dapat dilihat sbb:


Pengobatan malaria falciparum pada kehamilan Trimester II dan III

Hari

Jenis obat

Jumlah tablet per hari



40-60 kg

> 60 kg

H 1

Artesunat

3

4

Amodiaquine

3

4

H 2

Artesunat

3

4

Amodiaquine

3

4

H 3

Artesunat

3

4

Amodiaquine

3

4

Sumber: Kebijakan penanganan malaria pada ibu hamil di daerah endemis (Depkes. RI, 2009)

Penggunaan obat-obat yang terdaftar sebagai antimalaria sudah diatur dan dibakukan oleh Departemen Kesehatan sesuai dengan daerah dan sensitivitas Plasmodium falciparum terhadap obat-obat antimalaria. Artemisinin dipilih sebagai terapi kombinasi malaria yang sangat penting saat ini karena kemampuan menurunkan parasitemia 10 kali lebih cepat daripada obat-obat antimalaria lainnya: mempunyai efek samping yang minimal, tidak ditemukan adanya efek toksis, terabsorbsi cepat secara oral, dapat diberi secara intravena dan intramuscular dengan dosis pemberian dua kali sehari; dapat mengurangi karier gametosit pada manusia.

Walau telah tersedia obat pilihan namun dalam penanganan malaria, kesulitan tidak hanya diawali dengan mendapatkan kepastian diagnosis dini tetapi juga sering diakhiri dengan kegagalan pengobatan. Kegagalan pengobatan selain karena keterlambatan mendapat pengobatan, juga karena ketidaktepatan regimen dan dosis obat yang diberikan, serta kepatuhan penderita yang kurang memperhatikan pola minum obat antimalaria.\

MALARIA DALAM KEHAMILAN (Bag I : Gambaran dan Pengaruhnya dalam Kehamilan)

Gambaran malaria dan kehamilan

Ibu hamil memiliki risiko terserang malaria falciparum lebih sering dan lebih berat dibandingkan wanita tidak hamil. Hal tersebut berhubungan dengan supresi sistim imun baik humoral maupun seluler selama kehamilan sehubungan dengan keberadaan fetus sebagai benda asing di dalam tubuh ibu. Supresi sistem imun selama kehamilan berhubungan dengan keadaan hormonal. Konsentrasi hormon progesteron yang meningkat selama kehamilan berefek menghambat aktifasi limfosit T terhadap stimulasi antigen. Selain itu efek imunosupresi kortisol juga berperan dalam menghambat respon imun.

Malaria ibu hamil adalah malaria yang timbul selama kehamilan, yang dibuktikan dengan adanya parasit plasmodium dalam darah, atau pada plasenta yang dilahirkan. Kejadian infeksi malaria pada ibu hamil menjadi isu aktual pada pemberantasan malaria di seluruh dunia terutama di negara-negara dengan endemisitas malaria yang stabil tinggi. Malaria dalam kehamilan memiliki dampak yang negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Malaria berkontribusi tehadap angka kematian ibu dan bayi karena menyebabkan risiko/komplikasi pada ibu hamil. Disebutkan risiko anemi 3-15%, bayi berat lahir rendah (BBLR) 8-14% dan kematian bayi 3-8%.

Pengaruh Malaria Terhadap Ibu hamil

a. Anemia

Infeksi malaria akan menyebabkan lisis sel darah merah yang mengandung parasit sehingga akan menyebabkan anemia hemolitik normokrom. Pada infeksi plasmodium falciparum dapat terjadi anemia berat karena semua umur eritrosit dapat diserang. Eritrosit berparasit maupun tidak berparasit mengalami hemolisis karena fragilitas osmotik meningkat. Selain itu juga dapat disebabkan peningkatan autohemolisis baik pada eritrosit berparasit maupun tidak berparasit sehingga masa hidup eritrosit menjadi lebih singkat dan anemia lebih cepat terjadi.

b. Sistim sirkulasi

Kerusakan endotel kapiler sering terjadi pada malaria falciparum yang berat karena terjadi peningkatan permeabilitas cairan, protein dan diapedesis eritrosit. Kegagalan lebih lanjut aliran darah ke jaringan dan organ disebabkan vasokonstriksi arteri kecil dan dilatasi kapiler, hal ini akan memperberat keadaan anoksi. Pada infeksi plasmodium falciparum sering dijumpai hipotensi ortostatik.

c. Edema pulmonum

Pada infeksi plasmodium falciparum, pneumonia merupakan komplikasi yang sering dan umumnya akibat aspirasi atau bakteremia yang menyebar dari tempat infeksi lain. Gangguan perfusi organ akan meningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi edema interstitial. Hal ini akan menyebabkan disfungsi mikrosirkulasi paru. Gambaran makroskopik paru berupa reaksi edematik, berwarna merah tua dan konsistensi keras dengan bercak perdarahan. Gambaran mikroskopik tergantung derajat parasitemi pada saat meninggal.

d. Hipoglikemia

Pada wanita hamil umumnya terjadi perubahan metabolisme karbohidrat yang menyebabkan kecenderungan hipoglikemia terutama saat trimester terakhir. Selain itu, sel darah merah yang terinfeksi memerlukan glukosa 75 kali lebih banyak daripada sel darah normal.

e. Infeksi plasenta

Pada penelitian terhadap plasenta wanita hamil yang terinfeksi berat oleh falciparum ditemukan banyak timbunan eritrosit yang terinfeksi parasit dan monosit yang berisi pigmen di daerah intervilli. Disamping itu juga ditemukan nekrosis sinsisial dan proliferasi sel-sel sitotrofoblas.

f. Gangguan elektrolit

Rasio natrium/kalium di eritrosit dan otot meningkat dan pada beberapa kasus terjadi peningkatan kalium plasma pada saat lisis berat. Rasio natrium/kalium urin sering terbalik.

Kematian janin intrauterin dapat terjadi akibat hiperpireksia, anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi transplasental.b.

g. Malaria serebral

Malaria serebral merupakan ensefalopati simetrik pada infeksi Plasmodium falciparum dan memiliki mortalitas 20-50%. Sejumlah mekanisme patofisiologi ditemukan antara lain obstruksi mekanis pembuluh darah serebral akibat berkurangnya kemampuan deformabilitas eritrosit berparasit atau akibat adhesi eritrosit berparasit pada endotel vaskuler yang akan melepaskan faktor-faktor toksik dan akhirnya menyebabkan permeabilitas vaskuler meningkat, sawar darah otak rusak, edema serebral dan menginduksi respon radang pada dan di sekitar pembuluh darah serebral.

Pengaruh Malaria Pada Janin

Malaria falciparum sangat berbahaya terutama pada trimester terakhir kehamilan diantaranya adalah:

a. Kematian janin dalam kandungan.

Kematian janin intrauterin dapat terjadi akibat hiperpireksia, anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi transplasental

b. Abortus

Abortus pada usia kehamilan trimester I lebih sering terjadi karena demam tinggi sedangkan abortus pada usia trimester II disebabkan oleh anemia berat.

c. Persalinan prematur .

Umumnya terjadi sewaktu atau tidak lama setelah serangan malaria yang disebabkan oleh febris, dehidrasi, asidosis atau infeksi plasenta.

d. Bayi berat lahir rendah
Penderita malaria biasanya menderita anemi sehingga akan berakibat terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan.
e. Malaria kongenital.
Plasenta merupakan barier utama dari parasit malaria, dan status kekebalan ibu berperan menghambat transmisi tersebut. Oleh sebab itu pada banyak ibu-ibu yang non imun dan semi imun terjadi transmisi malaria intra-uterin ke janin, sehingga menyebabkan penetrasi langsung melalui villi chorion, separasi plasenta yang prematur, dan transfusi fisiologis darah ibu ke sirkulasi darah janin di dalam uterus.

Kamis, 09 Desember 2010

Mother .. (Sami Yusuf)


Blessed is your face
Blessed is your name
My beloved

Blessed is your smile
Which makes my soul want to fly
My beloved

All the nights
And all the times
That you cared for me
But I never realised it
And now it’s too late
Forgive me

Now I’m alone filled with so much shame
For all the years I caused you pain
If only I could sleep in your arms again
Mother I’m lost without you
You were the sun that brightened my day
Now who’s going to wipe my tears away
If only I knew what I know today
Mother I’m lost without you

Ummahu, ummahu, ya ummi
Wa shawqahu ila luqyaki ya ummi
Ummuka, ummuka, ummuka ummuka
Qawlu rasulika
Fi qalbi, fi hulumi
Anti ma’i ya ummi

Mother... Mother... O my mother
How I long to see O mother
“Your mother, Your mother, Your mother”
Is the saying of your Prophet
In my heart, in my dreams
You are always with me mother

Ruhti wa taraktini
Ya nura ‘aynayya
Ya unsa layli
Ruhti wa taraktini
Man siwaki yahdhununi
Man siwaki yasturuni
Man siwaki yahrusuni
‘Afwaki ummi
Samihini...

You went and left me
O light of my eyes
O comfort of my nights
You went and left me
Who, other than you, will embrace me?
Who, other than you, will cover me?
Who, other than you, will guard over me?
Your pardon mother, forgive me

Senin, 06 Desember 2010

MENGENAL MASTITIS (PERADANGAN PADA PAYUDARA)

Pendahuluan:

Mastitis merupakan suatu keadaan infeksi dan peradangan pada mammae, terjadi terutama pada primipara. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Mammae yang terkena mastitis biasanya tegang, kemerahan, bengkak, dan keras serta sakit. Mastitis yang umum terjadi ada dua yaitu mastitis gravidarium dam mastitis puerpuralis. Mastitis gravidarium terjadi pada ibu hamil dan mastitis puerpuralis terjadi pada ibu nifas.

Pada ibu yang mengalami mastitis terdapat tanda-tanda:

  • Ibu merasa lesu
  • Panas dingin dan kenaikan suhu
  • Tidak ada nafsu makan

Berdasarkan tempat terjadinya mastitis, mastitis dibagi menjadi tiga yaitu:

  1. Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae.
  2. Mastitis di tengah-tengah mammae.
  3. Mastitis pada jaringan di bawah torsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dengan otot di bawahnya.


Dalam perkembangannya, mastistis dibagi menjadi 2 tingkatan, yaitu tingkat awal peradangan dan tingkat abses. Pada peradangan taraf permulaan, penderita hanya merasa nyeri pada tempat terjadinya mastitis. Dari tingkat radang ke abses berlangsung cepat, karena oleh radang, duktulus-duktulus menjkadi edematus, air susu terbendung dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah.



Penyebab:

Mastitis disebabkan oleh karena menyusui yang kurang sering/tidak lama. Hal ini bisa terjadi pada ibu yang sibuk, bayi tidur pada malam hari, perubahan rutinitas dan ibu yang stress. Pengalihan yang kurang baik pun dapat menjadi faktor penyebab mastitis, yang diakibatkab karena menghisap tidak efektif, tekanan pada pakaian dan tekanan jari waktu menyusui. Jaringan payudara yang rusak dapat mengakibatkan trauma pada payudara, sehingga memungkinkan terjadinya mastitis. Mastitis merupakan infeksi yang disebabkan karena bakteri (staphylococcus aureus), karena terjadinya putting retak / fisura, dan atau lecet.

Patofisiologi

Penimbunan ASI pada ductus lactiferous di payudara menyebabkan bengkak dan keras, sehingga terdapat sensasi nyeri pada ibu. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya radang apabila terdapat porte d'entrĂ©e dari kuman penyebab, yaitu putting susu yang luka, retak atau lecet. Kuman ini menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Dari tingkat radang ini akan cepat menjadi abses, karena oleh radang duktulus-duktulus menjadi edematous, air susu terbendung, dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah. Gejala dari abses ini, biasanya ibu akan merasakan nyeri yang sangat, kulit di atas abses mengkilap dan terjadi peningkatan suhu (390 – 400C).

Penatalaksanaan

Pada payudara tegang/indurasi dan kemerahan, berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari, sangga payudara, berikan kompres dingin, perbanyak minum dan asupan nutrisi, berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4 jam (bila perlu), dan susukan bayi dari payudara yang tidak sakit sesering mungkin, ganti posisi menyusui. Lakukan senam laktasi dengan cara menggerakkan lengan secara berputar sehingga sendi bahu ikut bergerak kearah yang sama guna membantu memperlancar peredaran darah dan limfe di payudara.

Pada payudara yang terdapat masa padat, mengeras di bawah kulit yang kemerahan diperlukan konsultasi pada ahli, karena membutuhkan anestesi dan insisi radial (Insisi dilakukan dari tengah dekat pinggir areola, ke pinggir supaya tidak memotong saluran ASI, kantung pus dipecahkan dengan tissue forceps atau jari tangan, pasang tampon dan drain, tampon dan drain diangkat setelah 24 jam). Pemberian kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari, sangga payudara, kompres dingin, berikan paracetamol 500 mg setiap 4 jam sekali (bila diperlukan),

Beri motivasi ibu untuk tetap memberikan ASI, istirahat cukup, dan follow up setelah pemberian pengobatan selama 3 hari.

MANAJEMEN LAKTASI

Pendahuluan

Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya. Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap,yakni pada masa kehamilan (antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun (postnatal). Bagaimana mengelola ketiga periode penting ini dengan baik? Berikut langkah-langkahnya...

Periode Antenatal:

  1. Meyakinkan diri sendiri akan keberhasilan menyusui dan bahwa ASI adalah amanah Ilahi.
  2. Makan dengan teratur, penuh gizi dan seimbang.
  3. Mengikuti bimbingan persiapan menyusui yang terdapat di setiap klinik laktasi di rumah sakit.
  4. Melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara teratur.
  5. Menjaga kebersihan diri, kesehatan, dan cukup istirahat.
  6. Mengikuti senam hamil.

Periode Perinatal:

  1. Bersihkan puting susu sebelum anak lahir.
  2. Susuilah bayi sesegera mungkin, jangan lebih dari 30 menit pertama setelah lahir (inisiasi dini).
  3. Lakukan rawat gabung, yakni bayi selalu di samping ibu selama 24 jam penuh setiap hari.
  4. Jangan berikan makanan atau minuman selain ASI.
  5. Bila dalam 2 hari pertama ASI belum keluar, berikan bayi air putih masak dengan menggunakan sendok.
  6. Jangan memberikan dot maupun kempengan karena bayi akan susah menyusui, di samping mengganggu pertumbuhan gigi.
  7. Susuilah bayi kapan saja dia membutuhkan, jangan dijadwal. Susuilah juga bila payudara ibu terasa penuh. Ingatlah bahwa makin sering menyusui, makin lancar produksi dan pengeluaran ASI.
  8. Setiap kali menyusui,gunakanlah kedua payudara secara bergantian. Yakinkan bahwa payudara telah kosong atau bayi tidak lagi mau mengisap.
  9. Mintalah petunjuk kepada petugas rawat gabung, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar.
Periode Post natal:
  1. Berikan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan atau penyusuan eksklusif dan teruskan pemberian ASI sampai bayi berumur 2 tahun.
  2. Berikan makanan pendamping ASI saat bayi mulai berumur 6 bulan.

Pengukuran Status Gizi Remaja (Putri)


Pendahuluan

Gizi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan masa depan bangsa. Kekurangan gizi berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia karena kegagalan pada pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan kecerdasan, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan kesakitan, bahkan berakibat kematian. Gizi yang baik selama masa remaja sangat penting untuk menutupi defisit gizi yang diderita selama masa kanak-kanak. Gizi yang cukup dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, menyediakan energi yang memadai, mencegah penyakit dan proses kehamilan, dan mencegah penyakit yang berhubungan dengan gizi pada masa dewasa.

Status Gizi

Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Hal ini dapat dilihat dari variabel-variabel pertumbuhan yaitu berat badan, tinggi/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan panjang tungkai. Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi baik apabila asupan gizi sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Masalah Gizi pada Remaja Putri

Masalah gizi pada remaja putri ditandai dengan berat badan rendah. Hal ini dapat berakibat buruk pada masa kehamilan sehingga potensial melahirkan bayi berat lahir rendah, menurunkan prestasi sekolah dan produktivitas kerja. Masalah gizi lainnya adalah anemia dan kurang energi kronis. Menurut laporan WHO tahun 2008, prevalensi anemia pada wanita usia subur di dunia mencapai 30,2% dan di Indonesia 33,1%. Bahkan pada Riskesdas 2007 ditemukan prevalensi anemia pada wanita usia subur adalah 6,9% dan prevalensi nasional kurang energi kronis adalah 13,6%.

Faktor yang Berpengaruh

Kurangnya asupan zat gizi dipengaruhi oleh kekurangan zat gizi dalam makanan yang dikonsumsi. Usaha pemenuhan konsumsi makanan yang bergizi berkaitan erat dengan daya beli keluarga. Status ekonomi keluarga yang rendah mengakibatkan kurangnya kemampuan memenuhi kebutuhan makanan yang diperlukan oleh tubuh.

Remaja yang memiliki orang tua dengan perilaku makan yang salah mempunyai risiko perilaku makan yang juga salah. Adanya riwayat perilaku yang salah dalam konsumsi makan pada orang tua secara tidak langsung diadopsi oleh anaknya.

Pendidikan orangtua juga berperan besar dalam hal ini. Pendidikan ibu yang tinggi memungkinkanadanya informasi yang benar mengenai konsumsi makan terhadap anaknya. Pendidikan ayah yang tinggi lebih berdampak pada tingkat pendapatan keluarga sehingga adanya pendapatan yang tinggi dapat memenuhi kebutuhan khususnya kebutuhan gizi keluarga.

Pengukuran Antropometri pada Remaja

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menilai status gizi adalah Nutritional Anthropometri, yaitu pengukuran pada variasi fisik dan komposisi besaran tubuh manusia pada tingkat usia dan derajat nutrisi yang berbeda. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan IMT terhadap umur sebagai salah satu metode pengukuran antropometri pada remaja. Indeks massa tubuh (IMT) terhadap umur adalah suatu indeks antropometri berat dan tinggi dikombinasikan dengan usia. Indeks massa tubuh terhadap usia digunakan untuk mengelompokkan anak-anak dan remaja yang underweight, overweight atau berisiko overweight. Indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat (IMT=kg/m2). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan penggunaan IMT untuk skrining kelebihan berat badan dan obesitas sejak usia 2- 20 tahun.

Indeks massa tubuh yang normal pada usia remaja dapat menghindarkan dari kondisi penyakit yang terkait gizi pada usia remaja. Kondisi gizi kurang pada usia remaja meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis, fraktur, dan kelelahan saat bekerja. Indeks massa tubuh meningkat setelah lahir kemudian menurun sekitar usia 2 tahun, dan meningkat kembali diantara usia 5 dan 8 tahun. Nilai cutt off points IMT pada orang dewasa tidak tepat jika diterapkan pada anak dan remaja, karena anak mengakumulasi massa bebas lemak semasa pertumbuhannya yang tidak tepat jika dikaitkan dengan kegemukan. Nilai batas normal IMT (cutt off points) adalah persentil ke-5 sampai kurang dari persentil ke-85. Indeks massa tubuh kurang dari persentil ke-5 adalah underweight, IMT sama dengan persentil ke-85 sampai kurang dari persentil ke-95 adalah overweight dan IMT lebih dari persentil ke-95 adalah gemuk atau obesitas.

(Thanx 4 Cia Aprilianti, my friend from Poltekkes Kemenkes Palangka Raya )

Minggu, 05 Desember 2010

KONDOM DAN PENCEGAHAN PENULARAN PADA PASANGAN SERODISCORDANT


Pendahuluan

Kondom merupakan sarung yang dipasang pada penis saat ereksi, yang bertujuan untuk mencegah pertukaran cairan tubuh saat terjadi hubungan seksuaL. Ada 2 jenis kondom yang banyak beredar di pasaran, yaitu jenis latex (karet alam) dan kulit domba, sedangkan jenis kondom lain yaitu kondom sintetik masih belum banyak dikenal umum. WHO merekomendasikan penggunaan kondom latex dalam upaya pencegahan HIV karena fungsinya sebagai sawar spermatozoa dan pathogen (termasuk HIV, virus herpes, hepatitis B, CMV, GO dan clamidia trikomatis). Kondom jenis ini cukup banyak beredar dan tidak memerlukan resep dokter dalam transaksi pembelian.

Pemakaian kondom pada pasangan menikah seringkali mengalami masalah dalam kepatuhan, baik dari faktor suami maupun istri. Seorang single lebih sering menggunakan kondom dibandingkan dengan orang yang menikah atau memiliki pasangan tetap.

Suatu studi di China menunjukkan bahwa 40% pria pengidap STD yang diinterview masih melakukan hubungan seksual aktif; 41% dilakukan dengan istri atau tunangannya, 16% melakukan pada istri sekaligus PSK, 29% melakukan pada PSK dan pasangan tidak tetap, dan 4% melakukan pada seluruh tipe. Dari keseluruhan tersebut, hanya 10% yang menggunakan kondom saat berhubungan seksual.

Masalah bukan hanya dari suami, tapi juga dari istrinya yang menolak menggunakan kondom karena alasan kepercayaan, kesetiaan, rasa cinta dan penghormatan. Padahal data lain menunjukkan 60-80% perempuan di Sub-Sahara terinfeksi HIV oleh suami atau pasangan tetapnya. Meskipun demikian, status perkawinan seseorang dapat memberikan pengaruh positif pada kepatuhan suatu intervensi medis apabila terdapat hubungan yang saling mendukung satu sama lain.

Efektifitas dan Efikasi

Peningkatan efektifitas kondom dalam mencegah penularan HIV meningkat sejalan dengan meningkatnya kepatuhan dalam menggunaannya.

Penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi telah diketahui sejak abad ke-16. Dalam pencegahan IMS, penggunaan kondom 100% pada setiap hubungan seksual terbukti secara signifikan menurunkan kombinasi kejadian gonorea, infeksi klamidia dan trikomonas pada wanita Afro-America usia 14-18 tahun.

Pada HIV/AIDS, keberhasilan kondom dalam mencegah penularan HIV berhubungan dengan rata-rata terjadinya slip kondom (seluruhnya atau sebagian), kerusakan kondom selama hubungan seksual, perilaku pemakai kondom, penggunaan lubrikan pada kondom (masalah alergi), dan kualitas kondom (kondom kadaluarsa).

Penggunaan kondom yang tepat dan konsisten

Keberhasilan kondom dalam mencegah penularan HIV dipengaruhi oleh ketepatan dan konsistensi pemakaiannya. Pemakaian kondom yang konsisten adalah pemakaian kondom pada setiap penetrasi vagina dan pada setiap hubungan seksual. Masalah alergi terhadap lateks meskipun sangat jarang terjadi (0,08% pada populasi umum) namun dapat mengakibatkan ketidakkonsistenan pemakaian kondom. Karenanya pemakai harus mengetahui riwayat alerginya terkait pemakaian produk karet sebelumnya, dan selanjutnya dapat menggunakan produk non-karet.

Ketepatan pemakaian kondom mengandung 2 aspek ketepatan, yaitu : (1) pemilihan kondom yang memenuhi standar kualitas; dan (2) pemakaian yang tepat oleh pemakai kondom. Kondom berkualitas dapat dilihat dari standar mutu yang dimiliki oleh pabrik pembuatan kondom. WHO merekomendasikan standar internasional minimal untuk kondom adalah ISO 4074 – Rubber Condom. Pemakaian yang tepat dikaitkan dengan menghindari perilaku yang tidak tepat yang sering terjadi terkait penggunaan kondom, yaitu: (1) Penggunaaan kondom yang sama pada intercourse (dipakai lebih dari satu kali); (2) Pemasangan tidak tepat waktu dan cara; (3) Kemungkinan robek saat membuka pembungkus (dengan kuku atau gunting).

Kamis, 25 November 2010

RINDUKU PADAMU, ... BUNDA...

Dini hari ini...
Saat aku bertemu diri-Mu, Tuhanku
Kutitipkan salam rindu untuk bundaku
wanita luarbiasa yang Kau panggil
saat Kau panggil juga seluruh hamba menghadapMu
Subuh Jumat 29 Oktober 2010,

Sang Pengasih,..
Kau melihat airmataku
menetes dari kerinduan pada bundaku
aku rindu aroma wanginya
aku rindu panggilan sayangnya
aku rindu bermanja-manja
atau pura-pura merajuk padanya
aku rindu masakannya
aku rindu berjalan berdua dengannya
aku rindu menikmati sore bersamanya
aku rindu segala hal darinya

Maha Agung,...
Aku merasakan perlindungan-Mu dalam pelukannya
Kasihsayang-Mu dalam senyumnya
Rasa aman dan kekuatan
dalam doa-doa yang dipanjatkannya pada-Mu

Penolongku,...
Ampuni segala salah bundaku
Kasihsayangilah beliau,
Lindungi bundaku dalam pelukan pertiwi-Mu
Hingga saat Kau pertemukan kami kembali
InsyaAllah dalam tatapan keridhaan-Mu,
... di Jannah-Mu

Selasa, 29 Juni 2010

Kenali dan Cegah Kanker Cervix Uteri

Pendahuluan :

Kanker Cervix Uteri (kanker leher rahim / Ca. Cervix) merupakan penyebab kedua kematian akibat kanker pada wanita di dunia (setelah kanker payudara). Hampir 80 % kasus ini terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, kanker ini merupakan pembunuh pertama karena kanker. Di seluruh dunia, setiap 2 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks. Di Asia Pasifik, setiap 4 menit seorang perempuan meninggal karena kanker serviks.

Epidemiologi Ca Cervix di Indonesia:

Indonesia terdiri dari 13.500 pulau-pulau, dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, dan jumlah perempuan sekitar 48 juta. Dari jumlah tersebut kita mesih memiliki screening coverage yang sangat rendah, yaitu kurang dari 5%(bandingkan dengan target coverage 80%). Selain itu penderita umumnya datang pada stadium lanjut (lebih 70% datang diatas stadium IIB). Keadaan ini mengakibatkan kejadian Ca Cervix di Indonesia sangat tinggi.




Penyebab dan Faktor Risiko:

Kanker cervix uteri disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV).






Ada 2 kelompok HPH, yaitu :

1. Kelompok risiko tinggi untuk ca.cerix: 16, 18, 26, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 53, 56, 58, 59, 66, 68, 73, 82.

2. Kelompok risiko rendah untuk ca. cervix: 6, 11, 40, 42, 43, 44, 54, 61, 72, 81.

Dari beberapa tipe diatas, tipe 16 dan 18 merupakan virus yang paling banyak diasosiasikan dengan Ca. Cervix




Tanda dan Gejala:


Pada keadaan awal, seringkali penderita tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan. Sejalan dengan perkembangan kankernya, maka daat timbul keluhan berikut:

1. Keputihan

2. Nyeri panggul

3. Contact bleeding (perdarahan senggama)

4. Perdarahan spontan per vaginam

5. Kesulitan buang air kecil.




Pencegahan:


Pencegahan merupakan kunci dalam penanggulangan Ca. Cervix di Indonesia. Ada 2 pencegahan yang dapat dilakukan, yaitu primer dan sekunder.

Pencegahan primer, dilakukan pada perempuan yang tidak memiliki bukti klinis terkena penyakit. Ini dilakukan melalui vaksinasi dan pendidikan kesehatan

Pencegahan sekunder, yaitu untuk mendeteksi secara dini serta memperlambatatau menghentikan perjalanan penyakit. Pada tahap ini dilakukan skrining dengan papsmear, IVA dan Kolposkopi.

Vaksinasi Profilaksis untuk HPV:
  1. GSK bivalen yang mengandung antigen HPV tipe 16 dan 18 (nama dagang: Cervarix) diberikan secara IM di M. Deltoideus pada bulan ke-0, 1 dan 6.
  2. Merck Qudrivalent yang mengandung antigen HPV tipe 6, 11, 16 dan 18 (nama dagang Gardasil), diberikan secara IM di M. Deltoideus pada bulan ke 0, 2 dan 6.



Skrining:

Metode skrining yang direkomendasikan di Indonesia adalah dengan papsmear dan IVA.




Bila dengan papsmear didapatkan hasil negatif, maka skrining selanjutnya disarankan pada waktu 1 - 2 tahun berikutnya. Hasil papsmear dikategorikan dalam 5 kelas sebagai berikut:

  • Kelas I Normal
  • Kelas II Atypical
  • Kelas III Abnormal (ringan, sedang, berat)
  • Kelas IV Insitu
  • Kelas v Kanker invasif

Hasil IVA dapat diamati langsung 1-2 menit setelah asam asetat dioleskan. Gambarannya adalah sebagai berikut:






IVA negatif















IVA negatif (dengan kista naboti)













IVA positif











Referensi:

http://www.medscape.com
workshop Ca. Cervix 2010
berbagai sumber



(disampaikan tgl 25 Juni 2010)