Jumat, 11 Juni 2010

Hentikan Epidemi HIV/AIDS ... Hentikan Stigma pada ODHA





Orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia pada tahun 2008 diperkirakan sekitar 33,4 juta orang (31,1 juta – 35,8 juta), meningkat 20% dari jumlah penderita di tahun 2000 (UNAIDS and WHO, 2009). Data di Indonesia menunjukkan bahwa jumlah kumulatif kasus AIDS sampai September 2009 adalah 184.442, meningkat 2.332 kasus dari tahun 2008 (Dirjen PP&PL, 2009). Diperkirakan ada 0,1% penduduk Indonesia yang hidup dengan virus HIV (172.000 – 219.000 orang). Data dari KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) menyebutkan sejak 1987 sampai Juni 2008, tercatat ada 12.686 kasus AIDS dan 2.479 diantaranya telah meninggal dunia (Stalker, 2008).

Ada tiga fase yang dapat diidentifikasi dalam epidemi HIV/AIDS yaitu epidemi HIV, epidemi AIDS, dan epidemi stigma, diskriminasi dan penolakan ODHA. Epidemi yang ketiga menurut Mann (1987) adalah tantangan terbesar dibandingkan penyakit itu sendiri, sehingga menghambat pelaksanaan program pencegahan HIV (Parker et al., 2002), (Chiao et al., 2009)

Stigma secara harfiah diartikan sebagai pemberian tanda cacat pada seseorang atau sesuatu, sedangkan diskriminasi lebih pada ranah hukum dan hak asasi manusia. HIV pada umumnya memiliki stigma berat di masyarakat. Stigmatisasi terkait AIDS dipicu oleh banyak faktor, seperti kurangnya pemahaman tentang penyakit, kesalahpahaman tentang penularan, kurangnya akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, pemberitaan media yang tidak tepat, masalah tidak bisa disembuhkannya AIDS, prasangka dan ketakutan terkait isu-isu sosial seperti masalah seksualitas, kesakitan dan kematian, serta penyalahgunaan obat-obatan. Stigma dapat memicu diskriminasi dan kekerasan terhadap hak asasi manusia (HAM) dalam berbagai cara. Di beberapa negara dilaporkan bahwa ODHA dipinggirkan dari hak-haknya dalam mendapat pelayanan kesehatan, pekerjaan, pendidikan, kebebasan beraktivittas. (Aggleton et al., 2005). Stigmatisasi akan menghasilkan pengucilan penderita dari lingkungan sosial sehingga malah dapat mengakibatkan penderita menghindari untuk mencari pertolongan / pengobatan dalam rangka menghindari stigmatisasi tersebut. Akibatnya dikhawatirkan malah dapat meningkatkan penyebaran penyakit (Jarlais et al., 2006), (Dirjen PP&PL, 2009).

UNAIDS (2010) menyebutkan bahwa epidemi HIV di Cina saat ini menunjukkan trend yang berbeda. Jika pada periode lalu penularan terutama melalui IDU (injectable drug user), maka saat ini hubungan heteroseksual telah menjadi cara utama dalam transmisi HIV. Trend serupa juga terjadi di Kenya. Keadaan ini mengakibatkan kelompok berisiko rendah (yaitu ibu rumah tangga dan janin) mennjadi berisiko.

Penanggulangan epidemi HIV/AIDS harus dilakukan secara komprehensif. Saat ini, pencegahan HIV yang dipromosikan pada masyarakan adalah dengan pendekatan ABCD yang meliputi Abstinence (tidak melakukan hubungan seksual) Being Faithful (setia pada pasangan), Condom Use (penggunaan condom), Drugs (tidak menggunakan NAPZA suntik)dan Equipment (tidak menggunakan peralatan tajam seperti alat tato, tindik dan suntik secara bersamaan). Dalam penanggulangan HIV, pendekatan ABC adalah kuncinya (USAID, 2002).