Selasa, 29 Juni 2010

Kenali dan Cegah Kanker Cervix Uteri

Pendahuluan :

Kanker Cervix Uteri (kanker leher rahim / Ca. Cervix) merupakan penyebab kedua kematian akibat kanker pada wanita di dunia (setelah kanker payudara). Hampir 80 % kasus ini terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, kanker ini merupakan pembunuh pertama karena kanker. Di seluruh dunia, setiap 2 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks. Di Asia Pasifik, setiap 4 menit seorang perempuan meninggal karena kanker serviks.

Epidemiologi Ca Cervix di Indonesia:

Indonesia terdiri dari 13.500 pulau-pulau, dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, dan jumlah perempuan sekitar 48 juta. Dari jumlah tersebut kita mesih memiliki screening coverage yang sangat rendah, yaitu kurang dari 5%(bandingkan dengan target coverage 80%). Selain itu penderita umumnya datang pada stadium lanjut (lebih 70% datang diatas stadium IIB). Keadaan ini mengakibatkan kejadian Ca Cervix di Indonesia sangat tinggi.




Penyebab dan Faktor Risiko:

Kanker cervix uteri disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV).






Ada 2 kelompok HPH, yaitu :

1. Kelompok risiko tinggi untuk ca.cerix: 16, 18, 26, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 53, 56, 58, 59, 66, 68, 73, 82.

2. Kelompok risiko rendah untuk ca. cervix: 6, 11, 40, 42, 43, 44, 54, 61, 72, 81.

Dari beberapa tipe diatas, tipe 16 dan 18 merupakan virus yang paling banyak diasosiasikan dengan Ca. Cervix




Tanda dan Gejala:


Pada keadaan awal, seringkali penderita tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan. Sejalan dengan perkembangan kankernya, maka daat timbul keluhan berikut:

1. Keputihan

2. Nyeri panggul

3. Contact bleeding (perdarahan senggama)

4. Perdarahan spontan per vaginam

5. Kesulitan buang air kecil.




Pencegahan:


Pencegahan merupakan kunci dalam penanggulangan Ca. Cervix di Indonesia. Ada 2 pencegahan yang dapat dilakukan, yaitu primer dan sekunder.

Pencegahan primer, dilakukan pada perempuan yang tidak memiliki bukti klinis terkena penyakit. Ini dilakukan melalui vaksinasi dan pendidikan kesehatan

Pencegahan sekunder, yaitu untuk mendeteksi secara dini serta memperlambatatau menghentikan perjalanan penyakit. Pada tahap ini dilakukan skrining dengan papsmear, IVA dan Kolposkopi.

Vaksinasi Profilaksis untuk HPV:
  1. GSK bivalen yang mengandung antigen HPV tipe 16 dan 18 (nama dagang: Cervarix) diberikan secara IM di M. Deltoideus pada bulan ke-0, 1 dan 6.
  2. Merck Qudrivalent yang mengandung antigen HPV tipe 6, 11, 16 dan 18 (nama dagang Gardasil), diberikan secara IM di M. Deltoideus pada bulan ke 0, 2 dan 6.



Skrining:

Metode skrining yang direkomendasikan di Indonesia adalah dengan papsmear dan IVA.




Bila dengan papsmear didapatkan hasil negatif, maka skrining selanjutnya disarankan pada waktu 1 - 2 tahun berikutnya. Hasil papsmear dikategorikan dalam 5 kelas sebagai berikut:

  • Kelas I Normal
  • Kelas II Atypical
  • Kelas III Abnormal (ringan, sedang, berat)
  • Kelas IV Insitu
  • Kelas v Kanker invasif

Hasil IVA dapat diamati langsung 1-2 menit setelah asam asetat dioleskan. Gambarannya adalah sebagai berikut:






IVA negatif















IVA negatif (dengan kista naboti)













IVA positif











Referensi:

http://www.medscape.com
workshop Ca. Cervix 2010
berbagai sumber



(disampaikan tgl 25 Juni 2010)