Minggu, 05 Desember 2010

KONDOM DAN PENCEGAHAN PENULARAN PADA PASANGAN SERODISCORDANT


Pendahuluan

Kondom merupakan sarung yang dipasang pada penis saat ereksi, yang bertujuan untuk mencegah pertukaran cairan tubuh saat terjadi hubungan seksuaL. Ada 2 jenis kondom yang banyak beredar di pasaran, yaitu jenis latex (karet alam) dan kulit domba, sedangkan jenis kondom lain yaitu kondom sintetik masih belum banyak dikenal umum. WHO merekomendasikan penggunaan kondom latex dalam upaya pencegahan HIV karena fungsinya sebagai sawar spermatozoa dan pathogen (termasuk HIV, virus herpes, hepatitis B, CMV, GO dan clamidia trikomatis). Kondom jenis ini cukup banyak beredar dan tidak memerlukan resep dokter dalam transaksi pembelian.

Pemakaian kondom pada pasangan menikah seringkali mengalami masalah dalam kepatuhan, baik dari faktor suami maupun istri. Seorang single lebih sering menggunakan kondom dibandingkan dengan orang yang menikah atau memiliki pasangan tetap.

Suatu studi di China menunjukkan bahwa 40% pria pengidap STD yang diinterview masih melakukan hubungan seksual aktif; 41% dilakukan dengan istri atau tunangannya, 16% melakukan pada istri sekaligus PSK, 29% melakukan pada PSK dan pasangan tidak tetap, dan 4% melakukan pada seluruh tipe. Dari keseluruhan tersebut, hanya 10% yang menggunakan kondom saat berhubungan seksual.

Masalah bukan hanya dari suami, tapi juga dari istrinya yang menolak menggunakan kondom karena alasan kepercayaan, kesetiaan, rasa cinta dan penghormatan. Padahal data lain menunjukkan 60-80% perempuan di Sub-Sahara terinfeksi HIV oleh suami atau pasangan tetapnya. Meskipun demikian, status perkawinan seseorang dapat memberikan pengaruh positif pada kepatuhan suatu intervensi medis apabila terdapat hubungan yang saling mendukung satu sama lain.

Efektifitas dan Efikasi

Peningkatan efektifitas kondom dalam mencegah penularan HIV meningkat sejalan dengan meningkatnya kepatuhan dalam menggunaannya.

Penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi telah diketahui sejak abad ke-16. Dalam pencegahan IMS, penggunaan kondom 100% pada setiap hubungan seksual terbukti secara signifikan menurunkan kombinasi kejadian gonorea, infeksi klamidia dan trikomonas pada wanita Afro-America usia 14-18 tahun.

Pada HIV/AIDS, keberhasilan kondom dalam mencegah penularan HIV berhubungan dengan rata-rata terjadinya slip kondom (seluruhnya atau sebagian), kerusakan kondom selama hubungan seksual, perilaku pemakai kondom, penggunaan lubrikan pada kondom (masalah alergi), dan kualitas kondom (kondom kadaluarsa).

Penggunaan kondom yang tepat dan konsisten

Keberhasilan kondom dalam mencegah penularan HIV dipengaruhi oleh ketepatan dan konsistensi pemakaiannya. Pemakaian kondom yang konsisten adalah pemakaian kondom pada setiap penetrasi vagina dan pada setiap hubungan seksual. Masalah alergi terhadap lateks meskipun sangat jarang terjadi (0,08% pada populasi umum) namun dapat mengakibatkan ketidakkonsistenan pemakaian kondom. Karenanya pemakai harus mengetahui riwayat alerginya terkait pemakaian produk karet sebelumnya, dan selanjutnya dapat menggunakan produk non-karet.

Ketepatan pemakaian kondom mengandung 2 aspek ketepatan, yaitu : (1) pemilihan kondom yang memenuhi standar kualitas; dan (2) pemakaian yang tepat oleh pemakai kondom. Kondom berkualitas dapat dilihat dari standar mutu yang dimiliki oleh pabrik pembuatan kondom. WHO merekomendasikan standar internasional minimal untuk kondom adalah ISO 4074 – Rubber Condom. Pemakaian yang tepat dikaitkan dengan menghindari perilaku yang tidak tepat yang sering terjadi terkait penggunaan kondom, yaitu: (1) Penggunaaan kondom yang sama pada intercourse (dipakai lebih dari satu kali); (2) Pemasangan tidak tepat waktu dan cara; (3) Kemungkinan robek saat membuka pembungkus (dengan kuku atau gunting).