Senin, 06 Desember 2010

MENGENAL MASTITIS (PERADANGAN PADA PAYUDARA)

Pendahuluan:

Mastitis merupakan suatu keadaan infeksi dan peradangan pada mammae, terjadi terutama pada primipara. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Mammae yang terkena mastitis biasanya tegang, kemerahan, bengkak, dan keras serta sakit. Mastitis yang umum terjadi ada dua yaitu mastitis gravidarium dam mastitis puerpuralis. Mastitis gravidarium terjadi pada ibu hamil dan mastitis puerpuralis terjadi pada ibu nifas.

Pada ibu yang mengalami mastitis terdapat tanda-tanda:

  • Ibu merasa lesu
  • Panas dingin dan kenaikan suhu
  • Tidak ada nafsu makan

Berdasarkan tempat terjadinya mastitis, mastitis dibagi menjadi tiga yaitu:

  1. Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae.
  2. Mastitis di tengah-tengah mammae.
  3. Mastitis pada jaringan di bawah torsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dengan otot di bawahnya.


Dalam perkembangannya, mastistis dibagi menjadi 2 tingkatan, yaitu tingkat awal peradangan dan tingkat abses. Pada peradangan taraf permulaan, penderita hanya merasa nyeri pada tempat terjadinya mastitis. Dari tingkat radang ke abses berlangsung cepat, karena oleh radang, duktulus-duktulus menjkadi edematus, air susu terbendung dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah.



Penyebab:

Mastitis disebabkan oleh karena menyusui yang kurang sering/tidak lama. Hal ini bisa terjadi pada ibu yang sibuk, bayi tidur pada malam hari, perubahan rutinitas dan ibu yang stress. Pengalihan yang kurang baik pun dapat menjadi faktor penyebab mastitis, yang diakibatkab karena menghisap tidak efektif, tekanan pada pakaian dan tekanan jari waktu menyusui. Jaringan payudara yang rusak dapat mengakibatkan trauma pada payudara, sehingga memungkinkan terjadinya mastitis. Mastitis merupakan infeksi yang disebabkan karena bakteri (staphylococcus aureus), karena terjadinya putting retak / fisura, dan atau lecet.

Patofisiologi

Penimbunan ASI pada ductus lactiferous di payudara menyebabkan bengkak dan keras, sehingga terdapat sensasi nyeri pada ibu. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya radang apabila terdapat porte d'entrĂ©e dari kuman penyebab, yaitu putting susu yang luka, retak atau lecet. Kuman ini menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Dari tingkat radang ini akan cepat menjadi abses, karena oleh radang duktulus-duktulus menjadi edematous, air susu terbendung, dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah. Gejala dari abses ini, biasanya ibu akan merasakan nyeri yang sangat, kulit di atas abses mengkilap dan terjadi peningkatan suhu (390 – 400C).

Penatalaksanaan

Pada payudara tegang/indurasi dan kemerahan, berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari, sangga payudara, berikan kompres dingin, perbanyak minum dan asupan nutrisi, berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4 jam (bila perlu), dan susukan bayi dari payudara yang tidak sakit sesering mungkin, ganti posisi menyusui. Lakukan senam laktasi dengan cara menggerakkan lengan secara berputar sehingga sendi bahu ikut bergerak kearah yang sama guna membantu memperlancar peredaran darah dan limfe di payudara.

Pada payudara yang terdapat masa padat, mengeras di bawah kulit yang kemerahan diperlukan konsultasi pada ahli, karena membutuhkan anestesi dan insisi radial (Insisi dilakukan dari tengah dekat pinggir areola, ke pinggir supaya tidak memotong saluran ASI, kantung pus dipecahkan dengan tissue forceps atau jari tangan, pasang tampon dan drain, tampon dan drain diangkat setelah 24 jam). Pemberian kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari, sangga payudara, kompres dingin, berikan paracetamol 500 mg setiap 4 jam sekali (bila diperlukan),

Beri motivasi ibu untuk tetap memberikan ASI, istirahat cukup, dan follow up setelah pemberian pengobatan selama 3 hari.