Senin, 06 Desember 2010

Pengukuran Status Gizi Remaja (Putri)


Pendahuluan

Gizi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan masa depan bangsa. Kekurangan gizi berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia karena kegagalan pada pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan kecerdasan, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan kesakitan, bahkan berakibat kematian. Gizi yang baik selama masa remaja sangat penting untuk menutupi defisit gizi yang diderita selama masa kanak-kanak. Gizi yang cukup dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, menyediakan energi yang memadai, mencegah penyakit dan proses kehamilan, dan mencegah penyakit yang berhubungan dengan gizi pada masa dewasa.

Status Gizi

Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Hal ini dapat dilihat dari variabel-variabel pertumbuhan yaitu berat badan, tinggi/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan panjang tungkai. Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi baik apabila asupan gizi sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Masalah Gizi pada Remaja Putri

Masalah gizi pada remaja putri ditandai dengan berat badan rendah. Hal ini dapat berakibat buruk pada masa kehamilan sehingga potensial melahirkan bayi berat lahir rendah, menurunkan prestasi sekolah dan produktivitas kerja. Masalah gizi lainnya adalah anemia dan kurang energi kronis. Menurut laporan WHO tahun 2008, prevalensi anemia pada wanita usia subur di dunia mencapai 30,2% dan di Indonesia 33,1%. Bahkan pada Riskesdas 2007 ditemukan prevalensi anemia pada wanita usia subur adalah 6,9% dan prevalensi nasional kurang energi kronis adalah 13,6%.

Faktor yang Berpengaruh

Kurangnya asupan zat gizi dipengaruhi oleh kekurangan zat gizi dalam makanan yang dikonsumsi. Usaha pemenuhan konsumsi makanan yang bergizi berkaitan erat dengan daya beli keluarga. Status ekonomi keluarga yang rendah mengakibatkan kurangnya kemampuan memenuhi kebutuhan makanan yang diperlukan oleh tubuh.

Remaja yang memiliki orang tua dengan perilaku makan yang salah mempunyai risiko perilaku makan yang juga salah. Adanya riwayat perilaku yang salah dalam konsumsi makan pada orang tua secara tidak langsung diadopsi oleh anaknya.

Pendidikan orangtua juga berperan besar dalam hal ini. Pendidikan ibu yang tinggi memungkinkanadanya informasi yang benar mengenai konsumsi makan terhadap anaknya. Pendidikan ayah yang tinggi lebih berdampak pada tingkat pendapatan keluarga sehingga adanya pendapatan yang tinggi dapat memenuhi kebutuhan khususnya kebutuhan gizi keluarga.

Pengukuran Antropometri pada Remaja

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menilai status gizi adalah Nutritional Anthropometri, yaitu pengukuran pada variasi fisik dan komposisi besaran tubuh manusia pada tingkat usia dan derajat nutrisi yang berbeda. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan IMT terhadap umur sebagai salah satu metode pengukuran antropometri pada remaja. Indeks massa tubuh (IMT) terhadap umur adalah suatu indeks antropometri berat dan tinggi dikombinasikan dengan usia. Indeks massa tubuh terhadap usia digunakan untuk mengelompokkan anak-anak dan remaja yang underweight, overweight atau berisiko overweight. Indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat (IMT=kg/m2). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan penggunaan IMT untuk skrining kelebihan berat badan dan obesitas sejak usia 2- 20 tahun.

Indeks massa tubuh yang normal pada usia remaja dapat menghindarkan dari kondisi penyakit yang terkait gizi pada usia remaja. Kondisi gizi kurang pada usia remaja meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis, fraktur, dan kelelahan saat bekerja. Indeks massa tubuh meningkat setelah lahir kemudian menurun sekitar usia 2 tahun, dan meningkat kembali diantara usia 5 dan 8 tahun. Nilai cutt off points IMT pada orang dewasa tidak tepat jika diterapkan pada anak dan remaja, karena anak mengakumulasi massa bebas lemak semasa pertumbuhannya yang tidak tepat jika dikaitkan dengan kegemukan. Nilai batas normal IMT (cutt off points) adalah persentil ke-5 sampai kurang dari persentil ke-85. Indeks massa tubuh kurang dari persentil ke-5 adalah underweight, IMT sama dengan persentil ke-85 sampai kurang dari persentil ke-95 adalah overweight dan IMT lebih dari persentil ke-95 adalah gemuk atau obesitas.

(Thanx 4 Cia Aprilianti, my friend from Poltekkes Kemenkes Palangka Raya )