Jumat, 31 Desember 2010

SUPERCROWNING

Pengendalian diri ibu merupakan kunci semua metode kelahiran dengan perineum utuh. Kelahiran kepala yang mendadak dapat menimbulkan robekan hebat ke spingter ani. Tenik mencegah kelahiran yang mendadak adalah dengan membantu melakukan kendali volunter usaha mengejan dengan cara memimpin nafas pendek dan cepat.

Beynon (1957) saat kala II meminta wanita primipara untuk tidak mengejan. Kepala bayi dapat turun perlahan - lahan dan mantap tanpa pengerahan tenaga, bayi lahir tanpa menyebabkan trauma perineum. Distensi lambat dapat mengurangi traumatik, efek memanfaatkan tenaga dari kontraksi uterus untuk mendorong janin turun melalui segmen bawah uterus dan vagina akan memastikan bahwa tarikan pada ligamen serviks tranversum berlangsung sampai penurunan selanjutnya terjadi. Bagian awal dari setiap kontraksi akan menarik vagina yang telah meregang, mencegahnya terdorong kebawah kedepan bagian terendah janin dan tidak dianjurkan untuk mengejan sebelum bagian awal kontraksi berakhir, desakan mengejan biasanya tidak bersamaan dengan awal kontraksi.

Supercrowning pertama kali di perkenalkan oleh Goldberg (2004). Pada saat crowning ibu berhenti mengejan untuk membiarkan vagina dan perineum meregang perlahan – lahan di sekitar kepala bayi yang mulai muncul guna menguragi robekan/pelahiran yang terlalu cepat. Saat terjadi peregangan, sensasi panas merupakan sinyal yang jelas untuk menghentikan mengejan. Tehnik ini tidak di rekomendasikan untuk beberapa keadaan obstetrik yang memerlukan cepat misalnya gawat janin atau ibu.

Saat crowning, diameter suboccipitobregmatic dan biparietal kepala bayi meregangkan cincin vulva tidak masuk vagina lagi di antara kontraksi, kain atau handuk bersih diletakkan diatas perut ibu dan kain bersih dan kering tadi dilipat sepertiganya di bawah bokong ibu. Perineum dilindungi dengan satu tangan (di bawah kain bersih dan kering) ibu jari dan empat jari lainnya diletakkan pada kedua sisi perineum, jari-jari tangan yang lain pada kepala bayi yang keluar dengan tekanan yang lembut untuk mencegah crowning expulsive. Pada saat ini perineum meregang. Keadaan ini dipertahankan sambil menunggu satu atau dua kontraksi, dengan cara ini ibu dipimpin untuk tidak meneran, berhenti untuk beristirahat atau bernafas cepat dengan cara meniup (fuh..., fuh..., fuh...). Proses ini memberi waktu pada jaringan vagina dan perineum untuk penyesuaian dan akan mengurangi kemungkinan terjadi robekan.

Kepatuhan ibu dalam proses supercrowning sangat di butuhkan untuk mempertahankan crowning. Dalam hal ini penolong persalinan sedapat mungkin meningkatkan kepercayaan diri ibu dengan penuh kesabaran dan tidak ada kesan terburu-buru, dapat menerima ibu yang sedang kesakitan (empati), memuji ibu apa yang di kerjakan dengan benar, memberi bantuan praktis, memberi informasi yang relevan, bicara dengan lembut serta memberikan saran dari pada memerintah. Dengan supercrowning kepala bayi di lahirkan seperti proses persalinan fisiologis.