Kamis, 24 Februari 2011

Renungan Kecil Untuk Ibu Yang Tersenyum Ketika Berdoa Seusai Shalat Shubuh


Ibu, kau adalah puisi dalam kebisuan saya. Memberi bunyi untuk hati saya yang sepi, mengirim doa dalam gelapnya hidup saya. Kau menulis harapan, dan selamanya akan mengalir dalam darah saya. Kau mengajarkan saya tentang dunia, mengenalkan saya pada senja dan langit biru. Kau tanam dalam jiwa saya sebuah kekuatan untuk memahami misteri hidup. Ibu, kau adalah kedua mata di dalam hati saya, mengajarkan saya melihat warna hidup dengan cahaya cinta, mengajari saya merangkai dunia dengan tangan-tangan kasih sayang. Kau tanamkan di dalam jiwa saya tentang kesadaran sejati bahwa cinta adalah napas kehidupan. Hati yang lembut adalah inti keindahan dan kebahagiaan. Ketabahan adalah perjuangan yang bijaksana.

Luka pada hidup saya kau dekap sebagai duka bagimu, Ibu. Kau menjadi separuh hidup saya, menjadi air bagi dahaga hidup saya. Kau menjadi hujan bagi kemarau harapan saya. Kau bangun perahu di jiwa saya, dan kau bangun rumah di hatimu. Kau bentangkan cakrawala bagi sayap harapan saya, kau hamparkan bumi bagi sujud kesadaran saya. Restumu melampaui waktu, Ibu, doamu tiada jemu, menyala di hatimu, mengalir dalam kata dan air mata tanpa sehasta pinta, tanpa selirih pamrih. Cintamu, ibu, adalah lagu keselamatan bagi hidup saya. Kebahagiaan saya hari ini adalah seribu tahun pengorbananmu. Saya cinta kamu, maka catatan kecil ini saya tulis untukmu, sebagai sujud kecil dan lagu pujian di hadapan lautan cintamu yang sangat luas…

Poetry by: Badru Tamam Mifka

Selasa, 15 Februari 2011

Doa Qunut & Terjemah


“Ya Allah tunjukkan aku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. “

” Berikan kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan. “

” Dan peliharalah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau peliharakan. “

” Berilah keberkatan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan. “

” Dan selamatkan aku dari bahaya yang telah Engkau tentukan. “

” Maka sesungguhnya, Engkaulah yang menghukum dan bukannya yang kena hukum. “

” Dan sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. “

” Dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. “

” Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi “

” Maka bagi Engkaulah segala pujian di atas apa yang Engkau hukumkan. “

” Aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu. “

” Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad dankeluarganya.“

Sabtu, 05 Februari 2011

Trying to be a genius,..


Gara-gara insomnia akhirnya aku membuka kembali file puzzle yang kukumpulkan,.. Kufikir lumayan juga, bisa bikin mata lelah dan mumet, akhirnya tertidur lelap,... zzzz,.... Nah, aku ketemu gambar ini. Entah aku save dari mana, tapi ini lumayan manjur bikin aku memutar laptopku kesana kemari sampai setengah jam, gara-gara gak mau dibilang avarage apalagi idiot.
(Maaf ya buat siapa aja yang punya foto ini,... diriku tidak mengakui ini bikinanku koq, jadi jangan diaduin sebagai plagiat..).


Saat pertama liat, aku cuma nemu 10 wajah,.. tapi akhirnya dengan perjuangan yang tiada henti, demi harkat dan martabat diri sendiri, serta kewajiban sebagai warga narsis yang harus dijunjung tinggi maka aku akhirnya nemu 13 wajah di gambar ini.. Finnally,...
Btw, alasan kenapa aku pengen dapat 13 wajah, adalah karena dibilangin begini: Jika anda menemukan:
0 – 5 wajah : anda idiot !
6 – 7 wajah : anda bodoh !
8 – 9 wajah : anda normal !
10 – 11 wajah : anda sangat normal !
12 – 13 wajah : anda genius !

100 days, left...

100 hari, bunda...
100 hari terberat dalam hidupku
dan setiap satu hari pergi
hanya airmata yang setia di sisi
....
tak ada yang menenangkan jiwaku lagi bunda
laksana berjalan di tengah malam,
di musim dingin yang mencekam
dan harus kulalui jalan ini sendiri
mengikuti alunan angin
tanpa tahu dimana harus berhenti
....
Bunda, kini aku tahu
arti sesungguhnya
pedih....
duka....
galau....
sendiri....
sepi....
hampa....
gamang....
lemah....
lelah....
....
Bunda
airmata ini seolah berikrar setia
dan sakit di dada ini, sakit yang tidak pernah kurasa sebelumnya
seringkali menyambangi saat tidurku
membuatku terjaga di sepanjang sisa malamku

Kini, kuhapus airmataku
hanya dengan tanganku sendiri
tanpa belaian cinta di kepalaku
atau suara menenangkan di jiwaku
aku sendiri bunda

dan tanpamu, ...
adalah cobaan terberat yang kujalani..
....

Pedatiku terus berputar bunda,
jerujinya menempel kokoh pada roda
terus menapaki jalan berkerikil ini
decit gerobakku menggema memilukan jiwa
dan kepalaku masih tertunduk
di bawah balutan matahari


(catatan 100 hari kepergian mama)