Selasa, 29 Maret 2011

JAMKESMAS (my notes & my big question)

This is not a fairy tale, and this is not happen in a land of nowhere. This is in here,...

Di tempat asal saya yang cukup jauh dari pusat negara tercinta ini, di suatu kota yang bukan kota antah berantah, hiduplah seorang ibu berusia 55 tahun. Ibu ini janda, unemployed, memiliki anak hidup 6 orang (yang lainnya: 3 kali abortus dan 1 anak meninggal karena Tetanus Neonatorum saat usia seminggu).
  • 2 anak yang masih dalam tanggungan penuh beliau; 1 orang anak laki-laki (si bungsu) mondok di pesantren sederhana dengan bantuan dana salah seorang kerabat dan 1 orang anak perempuan lulus SMU 2 tahun yl dan juga masih unemployed karena lamaran kerja selalu ditolak (alasannya syndaktili pada tangan kiri).
  • 2 orang menikah dan bekerja tidak tetap. Mereka ini sudah tidak tinggal serumah.
  • 2 anak perempuan lagi belum menikah, masih tinggal serumah (pada rumah kontrakan mereka). Satu orang bekerja sebagai penjual makanan ringan di SD dekat rumah mereka(lulus SD) dan satu orang lagi bekerja pada salah satu toserba (lulus SMU).
Kondisi yang dialami keluarga ini cukup kompleks, tapi 2 hal yang paling penting (selain masalah kemiskinan itu sendiri) adalah:
  1. Ibu ini menderita PJK (penyakit jantung koroner) dan cukup sering sesak nafas.
  2. Anak beliau yang berjualan makanan di SD adalah penderita beberapa jenis kelainan:
  • Bifid uvula (sehingga kalau bercakap-cakap dengannya kita harus ekstra buka kuping agar mengerti maksudnya).
  • Scoliosis akibat trauma masa bayi (akibatnya tubuhnya pendek karena pertumbuhannya terhambat, jalannya pincang karena tungkainya kecil dan tinggi sebelah, serta agak bongkok ke depan).
  • Keluhan tersering adalah sesak nafas (scoliosis memang tidak menimbulkan kematian, tapi menimbulkan gangguan sistem kardiovaskuler dan pernapasan akibat volume paru-paru atau rongga dada berkurang karena sebagian tulang bengkoknya mengambil ruang atau tempat paru-paru. Gejala sesak napas terjadi karena kemampuan paru-paru menurun. Sebenarnya penderita skoliosis tidak kuat bekerja berat. Selain itu, kemungkinan besar pada usia 40 tahunan akan timbul osteoartrosis di mana akan timbul rasa sakit pada tulang belakang).
Satu hal yang mencengangkan saya adalah ketika suatu hari saya dikabari bahwa ibu tersebut mondok di rumah sakit karena sesak nafas dan selanjutnya pingsan.
Ibu ini disarankan mondok karena kata dokter yang memeriksanya, jantungnya bengkak. Kufikir, mengingat kondisinya maka mungkin akan makan waktu cukup lama untuk mondok. Tetapi ternyata lusanya beliau pulang ke rumah,.. Alasannya, uang hasil mengumpulkan sana-sini (termasuk modal jualan) dan utang (juga sana sini) sudah habis untuk biaya pemeriksaan selama 2 hari mondok tersebut. Ketika kutanya tentang Jamkesmas, katanya mereka pada periode ini sudah tidak dapat lagi karena mesti bergantian dengan yang lain (What???? Gantian?? Tapi miskinnya tidak gantian tuh,...!!!!).

Pada periode lalu, mereka (ibu dan anak perempuannya yang cacat ganda) memang diberikan Jamkesmas sehingga mereka merasa amat sangat tertolong saat itu. Si Ibu bisa secara rutin melakukan memeriksakan kondisinya di puskesmas terdekat. Sebagai catatan, pada periode tersebut seluruh anak ibu itu belum ada yang bekerja dan belum ada yang menikah. Mereka seluruh keluarga berkumpul dalam satu rumah, dan hanya 2 orang yang dapat jatah Jamkesmas.
Memangnya sakit bisa milih-milih orang ????.

Saat ibu ini mondok, mereka sudah mencoba dengan SKM dari kelurahan, tapi di RS gak laku,.. Kemudian disarankan mengurus ke RT dan kelurahan setempat untuk minta jamkesmas susulan, tapi memang tidak bisa. Alasannya karena masa pendataan telah lewat dan tidak ada jatah untuk peserta jamkesmas susulan. Selain itu, alasan sebelumnya dipakai lagi, yaitu "BERGILIRAN".
Sebagai pelengkap keherananku, kenapa tetangga sebelah rumahnya (anaknya pak haji pemilik rumah kontrakan mereka yang juga punya rumah pribadi) masih dapat ya??? Juga, kenapa pemilik kios sembako, pemilik warung makanan dan beberapa pemilik warung lain yang semuanya punya rumah sendiri, motor beberapa buah dan menurutku jauh dari kerak kemiskinan tapi masih dapat jamkesmas?? Dan tidak memilih-milih, tapi satu keluarga full sampai ke anak orok... Dan kenapa mereka tidak kena giliran off dapat Jamkesmas periode ini ya???


O, dear GOD....
Apakah memang masyarakat kami ini sungguh SAKTI MANDRAGUNA atau terpaksa menjadikan dirinya SAKTI dan kebal terhadap deraan sakit??.
O dear GOD, bagaimanakah juga kabar ibu penderita CA. Mamae stadium lanjut yang masih bekerja sebagai penumbuk emping yang kutemui beberapa waktu lalu. Ibu yang h
anya mampu mengerjakan 1-2kg maksimal perhari dengan upah Rp 1.500,- /kilo, yang bahkan bukan hanya tidak mendapat jamkesmas tapi juga kesulitan membeli raskin. Atau, mungkin saat ini beliau sudah tidak butuh apapun lagi...

Btw, we still have a good news.
Tanggal 3 Maret 2011 barusan, Bu Menkes membuat terobosan baik lagi, dengan mengesahkan Kepmenkes No. 515/MENKES/SK/III/2011 tentang Jaminan Kesehatan Masyarakat dan Jaminan Persalinan di Pelayanan Dasar. Alhamdulillah,..

So, I pray to all people involved in these issues,..
  • Mudah-mudahan ini akan tertular dan menyentuh seluruh layanan kesehatan dasar bagi seluruh kaum marginal.
  • Mudah-mudahan birokrat kita (terutama para birokrat di ujung tombak) menanggapi ini dengan serius dan menjalankan amanah dengan hati nurani.
  • Mudah-mudahan masyarakat kita mampu melaksanakan fungsi kontrol dengan baik, punya rasa MALU dan TAHU DIRI sehingga tidak memakan yang bukan haknya.
  • Mudah-mudahan kita yang "lumayan mampu" bergerak sebisanya. Paling tidak, mulai dengan bayar zakat ataupun pajak.
  • Endingnya, mudah-mudahan seluruh urusan kaum marginal dari hulu sampai hilir dapat diatasi dengan TEPAT (tidak perlu harus berupa ikan, mungkin pancing bahkan jauh lebih baik pada beberapa keadaan).

(NOTE: TULISAN INI SENGAJA DIKETIK DALAM WARNA UNGU, KARENA KETIKA MENGINGAT HAL INI, HATI SAYA RASANYA MEMBEKU DAN HYPOTHERMI)

Sumber foto:
http://hileud.com/sensus-penduduk-capai-91-masih-banyak-yang-tercecer.html