Selasa, 08 Maret 2011

Mengenal Perdarahan Postpartum

Perdarahan postpartum adalah perdarahan atau hilangnya darah 500 cc atau lebih yang terjadi setelah bayi lahir. Perdarahan dapat terjadi sebelum, selama, atau sesudah lahirnya plasenta. Perdarahan postpartum dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja setelah melahirkan. Karenanya, pendekatan risiko menggunakan kartu skor sudah tidak lagi digunakan. Meskipun demikian, dalam managemen penanganan persalinan, kita harus tetap mengantisipasii kemungkinan perdarahan postpartum.

Diperkirakan ada 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan setiap tahunnya paling sedikit 128.000 wanita mengalami perdarahan sampai meninggal. Sebagian besar kematian tersebut terjadi dalam waktu 4 jam setelah melahirkan.2 Di Inggris (2000), separuh kematian ibu hamil akibat perdarahan disebabkan oleh perdarahan post partum. Di Indonesia, sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit, sehingga sering pasien yang bersalin di luar kemudian terjadi perdarahan post partum terlambat sampai ke rumah sakit, saat datang keadaan umum/hemodinamiknya sudah memburuk, akibatnya mortalitas tinggi.3 Menurut Depkes RI, kematian ibu di Indonesia (2002) adalah 650 ibu tiap 100.000 kelahiran hidup dan 43% dari angka tersebut disebabkan oleh perdarahan post partum

Beberapa faktor risiko klinik dan etiologi PPH disingkat dengan empat T, yaitu:
1. TONUS (kontraksi uterus abnormal)
Ini terjadi karena adanya over distensi uterus, kelelahan otot uterus, infeksi intra amnion dan kelainan bentuk rahim (misalnya uterus bicorni, mioma uteri dan polip uteri).
Faktor risiko klinik adalah polihidramnion, gamelli, makrosomia, persalinan cepat, lama, paritas tinggi, demam, KPD, Fibroid, PP dan Anomali Uteri.
2. TISUE (retensi produk konsepsi)
Proses etiologi karena retensi produk kehamilan, placenta abnormal dan retensi kutiledon/suksenturia, dan retensi jendalan darah.
Faktor risiko klinik adalah adalah placenta tidak lengkap, operasi uterus sebelumnya, paritas tinggi, placenta abnormal pada USGG dan dan atonia uteri.
3. TRAUMA (trauma pada saluran genital)
Terjadi karena laserasi servik, vagina, perineum; pelebaran robekan pada SC, ruptur uteri dan inversi uteri.
Faktor risiko klinik adalah persalinan presipitatus, operatif malposisi, kepala masuk panggul, operasi uterus sebelumnya, paritas tinggi dan placenta di fundus.
4. TROMBIN (koagulasi abnormal)
Terjadi pada penyakit hemofilia, von Willebrandt, penyakit selama hamil: ITP, trombositopenia dengan preeklampsia, DIC (preeklampsia, IUFD, infeksi berat, solusio dan emboli cairan amnion), terapi antikoagulan.
Faktor risiko klinik adalah riwayat koagulopati dan penyakit hatik lebam, TD naik, fertal death, demam, AL (angka leukosit) tinggi, HAP, kolaps tiba-tiba, dan adanya riwayat penjendalan darah.

Perdarahan postpartum dapat berupa perdarahan yang hebat dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat ibu dapat jatuh kedalam keadaan syok. Dapat juga berupa perdarahan yang merembes perlahan-lahan tapi terjadi terus menerus sehingga akhirnya menjadi banyak dan menyebabkan ibu lemas ataupun jatuh kedalam syok.