Selasa, 12 April 2011

Metode Skrining Kanker Serviks

Sebuah metode skrining harus mempunyai syarat-syarat tertentu yaitu akurat, tidak mahal, mudah dilakukan dan ditindaklanjuti, dapat diterima serta aman.
Ada beberapa jenis metode skrining kanker serviks yang ada saat ini.

a. Metode skrining sitologi

1). Conventional Pap Smear

Metode ini menggunakan sampel yang diambil dari zona transformasi serviks dengan menggunakan ujung spatula kayu atau sikat. Kemudian dioleskan pada slide kaca dan segera difiksasi dengan larutan untuk mengawetkan sel. Lalu slide diperiksa dibawah mikroskop untuk menentukan apakah sel normal atau tidak.


2). Liquid-based cytology (LBC)

Pengujian Sitologi berbasis cairan (Liquid Based Cytology) adalah teknik baru yang menyediakan lapisan tipis sel serviks tanpa jaringan. Tes ini lebih mahal dari sitologi konvensional dan memerlukan staf laboratorium terlatih.

Keuntungan dari metode ini dibandingkan metode konvensional adalah: (a) spesimen yang diperoleh lebih representative dengan negative palsu yang lebih rendah; (b) spesimen yang tidak memuaskan hanya sedikit; (c) membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk interpretasi hasil sehingga peningkatan efisiensi waktu dan biaya; (d) bahan yang ada dapat juga digunakan untuk uji DNA HPV. (ACCP, 2004).


b. Metode HPV DNA

Tes HPV DNA termasuk tes yang baru. Saat ini tes tersebut sudah tersedia. Fungsinya sama seperti tes skrining yang sebelumnya. Tes HPV DNA dapat menentukan satu atau lebih virus HPV risiko tinggi dari spesimen leher rahim. Spesimen dari leher rahim dapat diambil oleh provider atau perempuan itu sendiri dengan menggunakan swab ke dalam vagina, namun hapusan yang diambil sendiri kurang sensitive dibandingkan dengan yang diambil provider. Tes ini memerlukan tenaga yang berpengalaman dan perlengkapan laboratorium yang lengkap dan mahal. Mengingat biaya, teknik dan persyaratan infrastruktur yang mahal tes ini sulit untuk diterapkan secara luas.


c. Metode Visual

Saat ini telah dikembangkan tes yang murah dan baik serta terjangkau untuk situasi dan sumber yang minim. Ada dua jenis tes yaitu Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) dan Visual Inspection with Lugol’s Iodine (VILI). Keduanya sama-sama mengandalkan visual atau penglihatan setelah mengoleskan larutan tertentu.

Tes VIA menggunakan larutan asam asetat (asam cuka) 3%-5% untuk mendapatkan perubahan warna pada daerah leher rahim. Lesi prakanker akan tampak berwarna putih khas (disebut acetowhite) setelah dioleskan dengan asam asetat menggunakan kapas aplikator. Hasil akan langsung didapat dan jika ditemukan lesi prakanker positif dapat dilanjutkan dengan pengobatan.

Tes VILI menggunakan larutan Lugol’s iodine. Setelah pewarnaan dengan yodium lugol pada serviks akan tampak warna coklat mahoni yang berarti negative dan lesi prakanker akan berwarna kuning. Karena tidak menggunakan layanan laboratorium, VIA dan VILI menjadi alternatif saat sumber daya terbatas (ACCP, 2004).


(My award to 'ka Adri Idiana, lecturer at Poltekkes Kemenkes Nanggro Aceh Darussalam)