Sabtu, 17 September 2011

Pemakaian AKDR (IUD) Menurunkan Risiko Terkena Kanker Cervix

Tanggal 17 September 2011, Medscape Medical News melansir berita tentang IUD Reduce Risk for Cervical Cancer. Berita tersebut bersumber dari The Lancet Oncology pada riset dengan judul Intrauterine Device use, cervical infection with human papillomavirus, and risk of cervical cancer: a pooled analysis of 26 epidemiological studies (publikasi online pada 13 September 2011).

Studi tersebut menganalisis data individu dari dua penelitian besar oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker dan Institut CatalĂ  d'Oncologia (suatu program penelitian tentang HPV dan kanker serviks); satu studi mengambil data dari sepuluh studi kasus kontrol kanker serviks dilakukan di delapan negara, dan data lainnya dari 16 survei prevalensi HPV dari perempuan di populasi umum pada 14 negara. 2205 wanita dengan kanker serviks dan 2214 wanita sebagai kontrol (tanpa kanker serviks) dimasukkan dalam studi kasus-kontrol tersebut. Selain itu penelitian juga melibatkan 15.272 wanita sehat dari survei HPV. Informasi tentang penggunaan AKDR diperoleh dengan wawancara pribadi, DNA HVP di test dengan PCR-based assays.
Analisis menggunakan regresi logistik multivariat tanpa syarat untuk melihat adanya hubungan antara penggunaan IUD, DNA HPV serviks, dan kanker serviks,

Temuan penelitian ini cukup mengejutkan, karena bertentangan dengan keyakinan saat ini. Setelah di-adjusted terhadap kovariat yang relevan (termasuk DNA dan jumlah pap test sebelumnya) didapatkan hubungan terbalik yang kuat antara penggunaan IUD dan kejadian kanker cervix (OR 0·55, 95%CI 0·42—0·70; p=0·0001). Selain itu juga ditemukan adanya faktor protektif untuk kanker squamos cell (0·56, 0·43—0·72; p=0·0001), adenocarcinoma dan adenosquamous carcinoma (0·46, 0·22—0·97; p=0·035).

Mekanisme korelasi tersebut tidak diketahui, tapi peneliti tersebut menjelaskan kemungkinan alasan bahwa terjadi suatu mekanisme dimana IUD menimbulkan efek protektif melalui induksi dari respon yang reaktif, kronis, pada tingkat rendah, inflamasi steril pada endometrium, kanal endoserviks, dan leher rahim yang mungkin termodifikasi melalui perubahan status imun mukosa setempat ( tempat dimana infeksi HPV terjadi).
Peneliti juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan efek protektif dalam lama pemakaian IUD.

Postulasi yang dikemukakan sehubungan hasil temuan ini adalah bahwa
trauma lokal pada jaringan servix akibat pemasangan atau pencabutan IUD menginduksi inflamasi kronik pada suatu area kecil dan memberikan respon imun dalam jangka panjang terhadap keadaan serupa. Penelitian ini similiar dengan postulasi yang dikemukakan peneliti lain bahwa trauma pada jaringan akibat insesi loop akan menginduksi respon imun selular yang mungkin menghilangkan infeksi HPV dan lesi pra-invasif.

Ini berarti informasi standar yang selama ini kita berikan pada pasien, yaitu bahwa "terdapat sekita 1% infeksi HPV akan berkembang menjadi kanker " ternyata tidak merefleksikan kejadian alami (yaitu studi tanpa intervensi klinis).

Ada yang berminat meneliti ini di Indonesia??