Rabu, 21 September 2011

Penilaian Awal Anak Gizi Buruk

Pada setiap anak gizi buruk lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis.
Anamnesis terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan.

Anamnesis awal (untuk kedaruratan):
  • Kejadian mata cekung yang baru saja muncul
  • Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan muntah dan diare (encer/darah/lendir)
  • Kapan terakhir berkemih
  • Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin.
Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin anak mengalami dehidrasi dan/atau syok, serta harus diatasi segera.

Anamnesis lanjutan (untuk mencari penyebab dan rencana tatalaksana selanjutnya, dilakukan setelah kedaruratan ditangani):
  • Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit
  • Riwayat pemberian ASI
  • Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir
  • Hilangnya nafsu makan
  • Kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis paru
  • Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
  • Batuk kronik
  • Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung
  • Berat badan lahir
  • Riwayat tumbuh kembang: duduk, berdiri, bicara dan lain-lain
  • Riwayat imunisasi
  • Apakah ditimbang setiap bulan
  • Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak)
  • Diketahui atau tersangka infeksi HIV
Pemeriksaan fisik:


  • Apakah anak tampak sangat kurus,








Adakah edema pada kedua punggung kaki.



  • Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB.
  • Tanda dehidrasi: tampak haus, mata cekung, turgor buruk (hati-hati menentukan status dehidrasi pada gizi buruk).
  • Adakah tanda syok (tangan dingin, capillary refill time yang lambat, nadi lemah dan cepat), kesadaran menurun.
  • Demam (suhu aksilar ≥ 37.5° C) atau hipotermi (suhu aksilar < 35.5° C).
  • Frekuensi dan tipe pernapasan: pneumonia atau gagal jantung
  • Sangat pucat
  • Pembesaran hati dan ikterus
  • Adakah perut kembung, bising usus melemah/meninggi, tanda asites, atau adanya suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal splash)
TATALAKSANA PERAWATAN:

  • Tanda defisiensi vitamin A pada mata:
(1) Konjungtiva atau kornea yang kering, bercak Bitot; (2) Ulkus kornea; (3) Keratomalasia




  • Ulkus pada mulut --> Fokus infeksi: telinga, tenggorokan, paru, kulit
  • Lesi kulit pada kwashiorkor: (1) hipo/hiperpigmentasi; (2) deskuamasi; (3) ulserasi (kaki, paha, genital, lipatan paha, belakang telinga); (4) lesi eksudatif (menyerupai luka bakar), seringkali dengan infeksi sekunder (termasuk jamur).
  • Tampilan tinja (konsistensi, darah, lendir).
  • Tanda dan gejala infeksi HIV.
Catatan:
  • Anak dengan defisiensi vitamin A seringkali fotofobia. Penting untuk memeriksa mata dengan hati-hati untuk menghindari robeknya kornea.
  • Pemeriksaan laboratorium terhadap Hb dan atau Ht, jika didapatkan anak sangat pucat.