Selasa, 14 Agustus 2012

Mengenali Autisme pada Anak

Autisme atau autisme infatile pertama kali dikemukakan oleh Leo Kanner tahun 1943. Penemuan istilah ini berdasarkan hasil observasi 11 anak pada tahun 1938-1943. 
Kanner mendeskripsikan 11 anak tersebut memiliki gangguan kontak dan sering disebut sebagai sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner adalah ekspresi wajah yang kosong seolah-olah melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain menarik perhatian atau mengajak komunikasi.
Autistik merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhi beberapa aspek. Umumnya anak kurang minat untuk melakukan kontak sosial dan tidak adanya kontak mata. Selain itu, anak autis memiliki kesulitan berkomunikasi dan terlambat dalam perkembangan bicara. Cenderung menyendiri dan menghidari kontak dengan orang lain. Orang lain dianggap sebagai objek (benda) bukan sebagai subjek yang dapat berinteraksi dan berkomunikasi.
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM IV), gangguan autis didefinisikan sebagai gangguan perkembangan dengan tiga ciri utama, yaitu gangguan pada interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi, yang gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia tiga tahun.

Ciri-ciri anak autis umumnya sebagai berikut:
a.   Gangguan perilaku
1)      Cuek terhadap lingkungan.
2)      Perilaku tak terarah seperti mondar-mandir, lari-lari, berputar-putar, melompat-lompat.
3)      Kelekatan terhadap benda tertentu.
4)      Rigid routine.
5)      Tantrum.
6)      Obsessive-Compulsive behaviour.
7)      Terpukau pada benda bergerak.
b.   Gangguan Interaksi Sosial
1)      Tidak mau melakukan kontak mata.
2)      Dipanggil tidak menoleh.
3)      Tidak mau bermain dengan teman sebaya.
4)      Asyik bermain sendiri.
5)      Tidak memiliki empati dalam lingkungan sosial.
c.   Gangguan Komunikasi dan Bahasa
1)      Terlambat bicara.
2)      Tidak ada usaha komunikasi non verbal dengan bahasa tubuh.
3)      Meracau dengan bahasa yang tidak dapat dipahami.
4)      Echolalia (membeo).
5)      Tidak memahami pembicaraan orang lain.

Trunoyudho (2007) menyatakan secara umum terdapat beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai 3 tahun, yaitu:
a. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, sering meniru dan mengulang kata tanpa mengerti maknanya.
b. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, dan lebih suka bermain sendiri.
c. Gangguan pada perilaku yang terlihat dari adanya perilaku yang berlebih (excessive) dan kekurangan (efficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan padangan kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton. Terkadang memiliki kelekatan pada benda tertentu yang dibawa kemana-mana.