Rabu, 23 September 2015

Menolong Dengan Cerdas



Di suatu masa, "sang manusia" mengarungi sungai kehidupannya dengan menggunakan bahtera kehidupan. Dia melaju dengan kecepatan stabil dan penuh keyakinan. Tiba-tiba ada seseorang hanyut di sungai kehidupan itu, dan berteriak minta tolong. Sang manusia kemudian menghentikan bahteranya, terjun ke sungai dan menolong si orang malang tersebut. Setelah selesai menolong, ia kembali ke bahteranya, meneruskan perjalanan dan kembali melaju. Tak berapa lama dia mendengar ada orang kedua yang berteriak minta tolong. Ia kembali terjun ke sungai, dan memberikan pertolongan. Setelah kembali ke bahtera dan melaju, ia mendengar ada orang ketiga yang meminta tolong. Kembali ia terjun dan memberi pertolongan.

Inikah prinsif pertolongan di sungai kehidupan? Haruskah sang manusia ini terus-terusan terjun ke sungai dan menyelamatkan semua orang?

Sang manusia kemudian berfikir sejenak, dan kemudian ia memutuskan untuk sedikit berbalik  melihat alasan kenapa orang-orang ini terjatuh. Akhirnya sang manusia menemukan bahwa ada manusia jahat (monster) yang menjatuhkan orang-orang ini ke sungai. Maka sang manusia ini kemudian menghadapi si monster dan mengalahkannya sehingga dengan demikian ia menolong semua orang yang melewati sungai tersebut untuk selamat sampai di tujuan hidupnya

Lesson Learn:
Menolong orang lain dalam kehidupan kita adalah pilihan. Dengan iman yang dimiliki, banyak manusia yang mengharuskan dirinya untuk bermafaat bagi banyak orang, termasuk menolong seseorang yang terjatuh di kehidupan, dengan memberikan tenaga, waktu, dan sumber daya yang dimiliki. Tentu dengan keikhlasan, hal itu menjadi tak terasa. Namun yang kita harapkan adalah hasil yang optimal. Berkaca dari kasus diatas, meskipun dengan keikhlasan yang penuh “si manusia” hanya akan menghabiskan hidupnya bertahan pada satu titik yaitu menyelamatkan orang yang tercebur. Dengan mengatasi akar masalah (yaitu monster), maka ia jauh lebih bermanfaat. Sang manusia memberikan jalan yang lebih baik pada orang-orang di belakangnya, dan menjadikan sumber daya yang milikinya dapat dimanfaatkan untuk keadaan lain di sungai kehidupan itu.

Selasa, 27 Januari 2015

Doa Dikala Sedih



Suatu peristiwa di dini hari 26 Januari 2015, ternyata mampu membuat hatiku (yang dibuat Allah) kuat, menjadi tergores dan luka. Maha Baik Allah yang membuatku teringat doa sbb:

Dalam Musnad Ahmad dan Shahih Ibni Hibban serta lainnya, ‘Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,
“Tidaklah seorang hamba mengucapkan doa berikut (ini) tatkala ia didera keresahan atau kesedihan melainkan Allah pasti akan menghilangkan keresahannya dan akan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan. Para Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sudah seharusnya kami mempelajari doa tersebut. Rasulullah menjawab: Benar. Sudah seharusnya orang yang mendengarnya mau mempelajarinya.


 “Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku.”